Pasuruan, kabarpas.com – Kondisi pandemi yang masih belum juga berakhir, membuat pendapatan penjualan terompet anjlok. Tak ayal, sejumlah penjual terompet di Pasuruan pun mengeluh lantaran menurunya hasil pendapatan mereka.
Kepada wartawan Kabarpas.com, Sidi (59), seorang penjual terompet di Pasar Kebonangung mengaku menurunnya hasil jualan terompet itu lantaran seiring dengan adanya larangan perayaan tahun baru, ditambah dengan penutupan pusat keramaian dan sejumlah jalan di Kota Pasuruan.
“Untuk tahun ini penjualannya menurun drastis. Karena penjualan sepi, sehari ya cuma laku 3 sampai 10 terompet,” katanya kepada Kabarpas.com. Jumat (31/12/2021).
Pria asal Lamongan ini mengungapkan bahwa dirinya merupakan pedagang terompet musiman.
Setiap menjelang tahun baru dia baru merantau ke luar kota untuk mejajakan terompet. “Gini ini nasib jadi pedagang musiman, kalau selesai tahun baru ya balik lagi jadi petani,” selorohnya.
Senasib dengan rekannya, Andy (23), penjual terompet di Alun-Alun Kota Pasuruan mengaku sudah berjualan sejak 6 tahun yang lalu. Menurutnya, omzet penjualannya tahun ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Adanya pandemi covid-19 ini membuat pendapatannya berkurang meski sudah berjualan mulai pagi hingga malam.
“Sebelum pandemi, tiap hari omzetnya bisa Rp 400 ribu. Tapi kalau sekarang cari uang Rp100 ribu aja susah. Hari ini saja belum ada yang beli,” ucapnya.
Sementara itu, Santoso (35) penjual terompet di sekitar Gor Untung Suropati, mengatakan bahwa pembeli terompet saat ini sepi akibat kebijakan penutupan jalan dan pusat keramaian di tengah kota. “Infonya jalan-jalan bakal ditutup, memang tahun ini tidak jauh beda dengan tahun lalu, sama-sama sepi,” pungkasnya. (emn/ida).

















