Oleh: Elmiya Sari
Kabarpas.com – MAJUNYA suatu negara dapat terlihat dari kualitas pendidikan masyarakatnya, Karena melalui pendidikan dapat mencetak sumber daya manusia yang intelektual, cerdas, ilmiah, dan bertanggung jawab. Tetapi, mengapa semakin meningkatnya pendidikan di berbagai bidang masalah-masalah sosial terasa semakin kompleks.
Sebagai contoh semakin merebaknya obat-obatan terlarang dan minum-minuman keras serta tawuran dikalangan remaja. Mungkinkah ada yang salah dengan dunia pendidikan di Indonesia? Meski pada realitanya remaja adalah usia yang rentan dalam mencari jati diri, tetapi mungkin dengan kontrol sosial dari keluarga, sekolah dan masyarakat dapat menangkal permasalahan-permasalahan tersebut.
Dengan penanaman pendidikan karakter diharapkan dapat menanggulangi semua permasalahan kenakalan remaja dan masalah sosial lainnya di masyarakat. Dengan pendidikan karakter juga diharapkan dapat menjadikan mereka menjadi anak-anak geberasi emas yang sesuai dengan cita-cita pendidikan nasional, yang akan membawa Indonesia menjadi negara adidaya.
Marilah semua kita coba dari keluarga, karena dalam keluargalah semua pendidikan anak bermula. Dari mulai di dalam kandungan anak-anak sudah mendapatkan pendidikan dari ibunya. Di dalam keluarga anak-anak mendapatkan kasih sayang dan motivasi dari keluarganya. Namun demikian orang tua perlu menerapkan pola asuh yang tepat pada anaknya. Bukan pola asuh yang terlalu memanjakan anak-anaknya, atau pola asuh yan keblablasan.
Orang tua berhak atas segala pendidikan anak-anaknya namun orang tua tidak berhak mengekang dan merebut hak-hak anak secara otoriter. Tidak dapat dibayangkan begitu buruk pola asuh otoriter bagi perkembangan pribadi anak, mereka akan memiliki sifat acuh tak acuh, emosi tidak responsif, berprilaku agresif, menjadi minder, selalu berpandangan negatif, emosi tidak stabil, emosi dan intelektual tidak seimbang, dan tentu saja masalah kepribadian ini akan berdampak pada pendidikan anak di sekolah.
Anak-anaknya selalu mencontoh perilaku orang tuanya, maka dari itu orang tua hendaknya menjadi model yang baik bagi anak-anaknya. Pola asuh yang demokratis dan luwes akan lebih berhasil dalam menciptakan pribadi anak yang tangguh, percaya diri, dan berkarakter.
Di era globalisasi ini pandangan orang tua tentang arah pendidikan jauh lebih maju dibanding dengan pandangan pendidikan orang tua sebelum jaman reformasi. Orang tua jaman sekarang sebagai pengemban tanggung jawab anak mempunyai kesadaran yang tinggi akan perkembangan pendidikan anak-anaknya, dan hal ini patut di syukuri.
Memang Orang tua yang baik adalah orang tua yang mempunyai kesadaran yang tinggi akan cita-cita tujuan pendidikan nasional. Dan untuk mewujudkannya mereka para orang tua telah memberikan pendidikan formal dan pendidikan keagamaan serta moral kepada anak-anaknya. Selain itu mereka hendaknya menanamkan sikap disiplin, tangguh serta memberikan motivasi dan gairah dalam mendidik.
Mereka perlu berbicara, merencanakan, dan mengajak anak-anaknya untuk bermimpi karena cita-cita yang besar dibangun dari sebuah impian. Memberikan pendidikan dan mewujudkan impian anak–anaknya sampai kejenjang yang tertinggi, menyalurkan minat pada pendidikan anak untuk mempersiapkan masa depannya, dan menanamkan nilai-nilai moral dengan menjadikan dirinya sebagai model keteladanan dalam perilaku kehidupannya. Dalam keluargalah dasar pembentukan karakter berawal, dan hasil pendidikan keluarga inilah yang akan digunakan anak sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah.
Tak hanya itu, para orang tua bahkan rela memberikan bantuan-bantuan baik bantuan fisik maupun moril. Para orang tua memberikan ide-ide pikiran melalui rapat walai murid, bahkan mereka rela menyumbangkan buku-buku, alat peraga dan materi demi berlangsungnya kelancaran proses belajar mengajar di sekolah tempat anaknya menuntut ilmu. Hal inilah yang membuktikan bahwa keluarga yang merupakan unit sosial terkecil mempunyai peranan penting bagi kelangsungan di satuan pendidikan.
Selain satuan pendidikan dan keluarga, Tri pusat pendidikan lainnya adalah masyarakat. Masyarakat mempunyai peranan tertentu dalam membentuk kepribadian anak. Lingkungan budaya masyarakat dan lingkungan keluarga yang berbeda akan berpengaruh terhadap cara berpikir anak. Menurut V Gotsky ( 1978) , menganggap budaya anak dan sejarah hidupnya secara individual sangat penting. Anak berbagi proses mental dalam konteks sosial dan belajar dengan berbagi pengalaman dengan orang lain, kemudian diikuti pengalaman pribadi.
Dalam masyarakat anak-anak berinteraksi dengan manusia lainnya, terkadang perilaku dan pergaulan yang salah dapat membawa anak-anak pada kenakalan remaja, sikap egoistis, sikap ingin dihargai, dan menunjukkan eksistensi dalam pergaulannya membuat mereka lebih mudah terjerumus pada kenakalan remaja.
Melihat permaslahan tersebut masyarakat hendaknya bertindak sebagai kontrol sosial, dengan menyediakan wahana pendidikan bagi anak melalui berbagai kegiatan-kegiatan positif yang ada di lingkungan masyarakat seperti organisasi kepemudaan, pondok pesantren, majelis ta’lim, kursus-kursus pendidikan dll. Pendidikan itu adalah sepanjang hayat, dan lingkungan pendidikan dapat diperoleh dari segala linkungan, dari lingkungan formal ( sekolah), informal (keluarga), juga lingkungan non formal ( masyarakat). Maka sebagai tugas masyarakatlah untuk mengontrol perilaku anak, mengajarkan mereka sehingga berperilaku baik. Dalam hal ini masyarakat diharapkan mampu menjadi wadah pendidikan dan memberi dampak positif bagi perkembangan pendidikan anak.
Dari uraian opini yang telah dipaparkan ini, bisa sedikit saya simpulkan bahwa hubungan keluarga, sekolah dan masyarakat sebagai Tri Pusat Pendidikan, peran ketiganya dalam satuan pendidikan nampak jelas tidak dapat terpisahkan antara satu dengan lainnya. Sekolah mendapatkan mandat tugas dan tanggung jawab pendidikan dari para orang tua dan masyarakat, sedangkan keluarga dalam hal ini orang tua siswa dan masyarakat sebagai penyelaras guna meningkatkan mutu di satuan pendidikan.
Dan implementasi dari kerjasama Tri Pusat Pendidikan tersebut adalah dengan didirikan dan berperannya Komite Sekolah. Dengan adanya komite sekolah diharapkan lebih terbina lagi hubungan yang harmonis antara Tri Pusat Pendidikan sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan anak-anakke arah yang lebih baik lagi. (***).

















