Oleh: Fittriyah, Aktifis Perempuan
Empat tahun lalu, tepat aku berdiri terpaku.
Melihat kau terbujur kaku, tanpa ada ucapan selamat tinggal.
Aku mengingat bagiku langit seolah runtuh, dan yang tersisa hanya kegelapan.
Di tengah kegelapan aku berusaha menemukan cahaya walau ujungnya sangat jauh.
Aku masih ingat, bagaimana luka demi luka harus diterima.
Berdiri, dengan terpapah.
Bahkan angin dingin, gelap tak mampu membuatku beranjak.
Namun hidup belum selesai menguji
Pundakku dipenuhi beban yang tak pernah kupilih.
sedang dadaku sesak, oleh tangis yang terus belajar diam.
Aku dipaksa pulih lebih cepat
Menjadi kuat sebelum sempat sembuh
Menjadi teduh bagi banyak hati. Meski diriku sendiri kehilangan tempat untuk pulang.
Malam-malam berlalu dengan langkah tertatih
dan doa-doa yang pecah di langit sunyi.
Sementara aku tetap berjalan membawa luka-Luka yang tak terlihat itu.
Dan sialnya, tak pernah benar-benar hilang.
Bahkan aku pernah berharap, sebuah sentuhan menjadi sebuah keajaiban
Dan sialnya lagi, luka itu semakin dalam.
Bahkan langkah kaki yang mulai merangkah gagah, harus bersimpu kembali.
Bukan, bukan karena tak bisa seimbang, tapi tak ada pilihan. (***).

















