Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 22 Jan 2019

Piala Adipura Dikirab Keliling Kota Kraksaan


Piala Adipura Dikirab Keliling Kota Kraksaan Perbesar

Reporter : Amelia Putri

Editor : Anis Natasya

Probolinggo, Kabarpas.com. – Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari melepas langsung kirab Piala Adipura keliling Kota Kraksaan. Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan bahwa kirab ini merupakan bentuk rasa syukur karena di Hari Ulang Tahun (HUT) ke-9, Kota Kraksaan sebagai ibukota Kabupaten Probolinggo mendapatkan kado istimewa berupa penghargaan Adipura.

“Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dan ikhtiar semua elemen masyarakat, terutama kepada kepala desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat, khususnya Kota Kraksaan yang telah mensupport dan memback up Kabupaten Probolinggo sehingga Kota Kraksaan mampu mengukir prestasi di kancah nasional,” katanya, Selasa (22/1/2019).

Menurut Bupati yang akrab disapa Bu Tantri tersebut, ikhtiar pihaknya akan terus digelorakan agar Kota Kraksaan sebagai Kota Kecil bisa terus berprestasi. Semua elemen harus bersama-sama membangun Kota Kraksaan menjadi sebuah kota yang sejuk dan nyaman serta mampu menjadi rumah yang baik bagi warga Kabupaten Probolinggo dan menjadi tuan rumah yang baik bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Semoga Piala Adipura ini mampu memecut semangat dan rasa kebersamaan untuk membangun Kota Kraksaan menjadi sebuah tempat yang nyaman dan menyejukkan serta membuat kerasan sesuai namanya Kraksaan. Selamat jalan dan ikhtiarkan Piala Adipura untuk memberikan semangat dan menempatkan kebanggaan bagi masyarakat Kota Kraksaan,” terangnya.

Untuk sekadar diketahui, sebagai ungkapan rasa syukur atas diraihnya penghargaan Adipura untuk Kota Kraksaan Kategori Kota Kecil, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melaksanakan kirab Piala Adipura keliling Kota Kraksaan. Kirab Piala Adipura ini dilakukan dengan menggunakan puluhan kendaraan dengan bak terbuka.

Kegiatan kirab ini diawali dengan penyerahan Piala Adipura Tahun 2018 oleh Bupati Probolinggo,  kepada Wakil Bupati Probolinggo, Timbul Prihanjoko untuk selanjutnya dikirab keliling Kota Kraksaan.

Selain Piala Adipura, turut dikirab pula Piala Adiwiyata yang diraih tahun 2018. Diantaranya Adiwiyata Mandiri Nasional yang diraih SMP Bhakti Pertiwi Paiton serta Adiwiyata nasional yang diraih SMAN 1 Paiton dan SMPN 1 Pajarakan.

Pelepasan kirab Piala Adipura ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Probolinggo serta para pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo. Hadir pula Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Hj. Nunung Timbul Prihanjoko, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Probolinggo Hj. Sudjilawati Soeparwiyono beserta segenap pengurus.

Setelah dilepas oleh Bupati Tantri, rombongan kirab Piala Adipura ini bergerak ke arah barat melewati Jl Rengganis Kota Kraksaan hingga Rutan Kelas II B Kraksaan. Selanjutnya ke arah barat Jl PB Sudirman Kota Kraksaan dan belok selatan ke arah Pasar Semampir.

Dari Pasar Semampir, rombongan kirab Piala Adipura bergerak ke arah timur hingga RSUD Waluyo Jati Kraksaan. Kemudian belok ke arah utara Stadion Gelora Merdeka Kraksaan. Dari sini rombongan kirab Piala Adipura bergerak ke arah barat melewati Jl. PB Sudirman Kota Kraksaan hingga finish di depan Kantor DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kabupaten Probolinggo. (mel/nis).

Artikel ini telah dibaca 32 kali

Baca Lainnya

Hanung Bramantyo Angkat Tragedi 1965 Jadi Film Horor Lobang Buaya Sutradara Hanung Bramantyo memilih pendekatan horor untuk mengangkat isu sejarah dan tragedi 1965 dalam film terbarunya, “Lobang Buaya”. Menurut Hanung, horor tidak selalu berkaitan dengan hantu, tetapi juga dapat menggambarkan situasi penuh teror yang dialami masyarakat. Hal itu disampaikan Hanung dalam acara Special Screening film Lubang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di Kota Cinema Mall, Minggu (20/9/2026). Hanung mengatakan salah satu alasan dirinya mengangkat tema 1965 adalah karena film sejarah dinilai belum banyak menarik perhatian penonton muda. Padahal, menurut dia, sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda. Ia melihat sejumlah film dengan tema kehidupan anak muda mampu memperoleh jumlah penonton besar. Sebaliknya, film yang mengangkat sejarah cenderung memiliki jumlah penonton lebih terbatas. Karena itu, Hanung ingin menggunakan medium film untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini. “Saya pengin masyarakat Indonesia, terutama anak muda pecinta film, jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965,” ucap Hanung usai nonton bareng. Menurut dia, peristiwa 1965 tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta. Hanung menilai dampak konflik politik dan ideologi pada periode tersebut juga terjadi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Ia menyebut konflik pada masa itu menimbulkan kekerasan dan korban dari berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, ia ingin mendorong penonton untuk melihat peristiwa 1965 melalui lebih dari satu perspektif. Hanung juga menekankan pentingnya literasi sejarah. Menurut dia, masyarakat tidak semestinya hanya bergantung pada satu narasi mengenai peristiwa 1965, tetapi juga membaca berbagai buku dan menyaksikan berbagai karya yang membahas peristiwa tersebut dari sudut pandang berbeda. “Jadi tolong jangan percaya pada satu propaganda pemerintah, tapi kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi,” ujarnya. Pendekatan horor dipilih Hanung karena ia melihat tragedi sejarah tersebut memiliki unsur teror yang kuat. Namun, horor yang dimaksud bukan semata-mata kemunculan hantu atau adegan “jump scare”. Hanung menyebut horor sebagai situasi ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan ketakutan akibat ancaman yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, kondisi sosial pada 1965 dapat dipahami sebagai situasi horor. Relasi sosial yang sebelumnya normal dapat berubah ketika seseorang dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu. “Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun,” tandasnya. Hanung juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Menurut dia, film tersebut juga menggunakan sejumlah perangkat sinematik yang membangun rasa takut penonton, meski mengangkat peristiwa sejarah. Karena itu, ia merasa pendekatan horor relevan untuk membawa penonton memasuki suasana psikologis sebuah periode sejarah yang penuh ketegangan. Namun, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat disebut sebagai drama misteri investigasi ketimbang film horor murni. “Saya menyebutnya lebih suka drama misteri investigasi. Karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor,” ujarnya. Selain mengangkat tragedi 1965, Hanung mengatakan film tersebut juga membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa. Ia menyebut konsep “7 Setan Desa” sebagai salah satu pijakan cerita. Istilah tersebut digunakan dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat korup, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya. Hanung mengatakan isu tersebut sengaja ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini. Ia juga mengatakan film menjadi medium baginya untuk menyampaikan kegelisahan mengenai kondisi sosial, keagamaan, dan politik. Sebelumnya, Hanung mengangkat isu sosial-keagamaan dalam sejumlah film, termasuk “Tanda Tanya” dan “Perempuan Berkalung Sorban”. “Film itu adalah medium kita untuk speak up, atas kegelisahan saya,” kata dia. Untuk Lobang Buaya, Hanung juga menjanjikan struktur cerita dengan beberapa plot twist. Ia mengatakan pendekatan tersebut banyak dipengaruhi film-film Korea yang menurutnya berani menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam sebuah cerita. Sebagai informasi, film Lobang Buaya dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

20 September 2026 - 15:41

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Rajin Kejar Pajak, Camat dan Lurah Jember Dijanjikan Promosi

19 September 2026 - 22:47

PAD Jember Tumbuh Tertinggi di Jatim, Wajib Pajak Taat Diganjar Penghargaan

19 September 2026 - 22:43

ISPA Meningkat, Pemkab Jember Ingatkan Warga Waspadai Gejala Influenza 

19 September 2026 - 15:03

Sembilan Hari Terombang-ambing, Tiga ABK Baliman Ditemukan Nelayan Puger

18 September 2026 - 20:29

Trending di KABAR NUSANTARA