Reporter : Mahfudz
Editor : Anis Natasya
Probolinggo, Kabarpas.com – Saat ini Pemerintah Kecamatan Wonomerto sedang berupaya untuk bisa terus melestarikan budaya asli masyarakat setempat berupa budaya dereh (merpati) getakan. Hal ini dilakukan sesuai dengan tagline Wonomerto Bangkit yang sedang didengung-dengungkan bersama para kepala desa (kades) se-Kecamatan Wonomerto.
“Budaya dereh getakan ini sudah mendarah daging bagi masyarakat Kecamatan Wonomerto. Bahkan setiap bulan ada arisan yang dilaksanakan oleh paguyuban. Jadi bisa setiap pertemuan sampai 200 sangkar. Dimana setiap sangkarnya berisi 15-30 ekor merpati,” ujar Camat Wonomerto Taufik Alami, Sabtu (9/12/2017).
Menurut Taufik, Kecamatan Wonomerto terdiri dari 11 desa dan termasuk dalam daerah dataran menengah. Struktur alamnya masuk geografis daerah perbukitan. Dari 11 desa itu, masyarakat di Desa Wonorejo, Sumberkare dan Jrebeng menggeluti usaha sektor pertanian, bidang peternakan. Salah satunya adalah usaha ternak merpati.
“Tidak mengherankan jika di 4 desa tersebut terkenal dengan budaya Dereh Getakan. Bahkan disana mempunyai kelompok pecinta atau komunitas burung merpati (dereh) getakan. Dari setiap acara selamatan desa atau peringatan hari besar nasional, selalu ada festival merpati getakan,” jelasnya.
Taufik menegaskan kegiatan dereh getakan ini bisa digunakan untuk kesibukan mengisi waktu senggang sehingga tidak sampai terpengaruh oleh perbuatan yang negatif. Sekaligus demi mengurangi tindakan kriminal melalui budaya tersebut. Setidaknya bisa mengingatkan kembali budaya lokal yang tidak tersentuh selama ini.
“Dereh getakan ini merupakan salah satu jati diri budaya lokal. Jati diri bangsa dengan tetap mempertahankan kearifan lokal. Oleh karena itu, jangan sampai jati diri ini punah dan hilang. Terlebih tradisi dereh getakan ini merupakan budaya yang sangat positif,” tukasnya. (pu2t/nis)

















