Jember, Kabarpas.com – Rencana Pemerintah Kabupaten Jember memperlebar trotoar di Jalan Kartini guna pengembangan kawasan food street menuai penolakan warga. Masyarakat yang melintas di kawasan tersebut menyampaikan keberatan karena pelebaran trotoar dinilai justru mempersempit ruang kendaraan dan berpotensi memperparah kemacetan di salah satu koridor tersibuk Kota Jember itu.
Jalan Kartini selama ini dikenal sebagai jalur padat aktivitas dengan keberadaan sekolah, rumah makan, rumah sakit , serta Gereja Santo Yusuf yang menjadi pusat kegiatan umat setiap minggunya. Dengan arus lalu lintas yang tinggi sejak pagi hingga malam, warga khawatir kebijakan pelebaran trotoar akan mengganggu mobilitas, memperbesar risiko kemacetan, dan memengaruhi operasional lembaga-lembaga penting di sepanjang jalan tersebut.
Selain keluhan soal penyempitan jalan, sebagian warga juga mempertanyakan urgensi menjadikan Jalan Kartini sebagai pusat kuliner. Menurut mereka, kawasan itu sudah memiliki beban lalu lintas tinggi, sehingga penambahan aktivitas komersial dikhawatirkan justru menambah titik kepadatan baru terutama pada jam-jam ibadah di Gereja Santo Yusuf dan jam bubar sekolah.
Menanggapi sorotan tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan bahwa dinamika pro dan kontra merupakan bagian wajar dari setiap proses penataan kota. Ia menyebut bahwa food street di Jalan Kartini disiapkan untuk membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru, memperkuat sektor UMKM, sekaligus menghadirkan kawasan wisata malam yang dapat menghidupkan ekonomi lokal.
“Saya pikir food street adalah salah satu cara memunculkan pusat keramaian baru sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Pengembangan ini juga untuk UMKM. Kita sudah komunikasi dengan semua pihak, bahkan dengan pihak gereja kami sudah bertemu hari Selasa kemarin. Insyaallah tidak ada hal yang membahayakan atau menyulitkan,” ujarnya, Minggu (7/12/2025).
Menurutnya, kekhawatiran warga akan kemacetan perlu dilihat dalam konteks desain operasional kawasan. Food street nantinya hanya dibuka pada malam hari, ketika aktivitas utama lembaga-lembaga di Jalan Kartini telah berkurang. Dengan pola ini, ia optimistis pemanfaatan ruang dapat berjalan lebih tertib tanpa mengganggu mobilitas pada siang hari.
“Konsepnya nanti dibuka malam. Kalau di Surabaya ada Kota Lama, di Malang ada Kayutangan, di Jogjakarta ada Malioboro, maka nanti di Jember ada food street,” jelasnya.
Fawait juga menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan proyek tunggal, melainkan bagian dari koridor wisata malam yang direncanakan membentang dari area Stasiun Jember menuju Pendopo Wahyawibawagraha hingga kawasan Jalan Kartini. Dalam jangka panjang, ia berharap pengembangan itu dapat diperluas hingga kawasan komplek Matahari.
“Kalau nanti sudah jadi dan kelihatan bagus, saya yakin banyak tempat lain akan meminta dibangun food street. Ke depan, kalau konsep ini berhasil, bukan hanya di daerah Jalan Kartini. Di beberapa titik yang rawan kemacetan juga bisa kita tata supaya manfaatnya merata wisata dapat, PKL dapat, keindahan kota juga dapat,” ujarnya.
Pemkab Jember menyatakan bahwa penataan Jalan Kartini bertujuan menyeimbangkan tiga kepentingan, mulai estetika kota, ruang wisata malam, dan pemberdayaan pelaku usaha kecil. Meski demikian, pemerintah memastikan tetap membuka ruang dialog dengan warga untuk meminimalisir dampak kebijakan. (dan/ian).

















