Pasuruan, Kabarpas.com -Nuansa spiritualitas dan budaya leluhur kembali berdenyut kencang di jantung Kota Pasuruan. Ribuan jamaah dari berbagai penjuru Kota dan Kabupaten Pasuruan memadati kompleks Masjid Agung Al Anwar untuk menghadiri ritual keagamaan dan kebudayaan “Purnamaan” yang kini genap menginjak usia 18 bulan.
Acara yang berlangsung khidmat di bawah langit cerah ini mengambil tempat di Pajimatan Adipati Niti Adi Ningrat—atau yang karib dikenal sebagai Kanjeng Pangeran Surga Surgi—Bupati pertama Pasuruan. Lokasi ini bernilai strategis dan historis karena berhadapan langsung dengan tiga ikon monumental Pasuruan: Payung Madinah, Alun-Alun Kota, dan Pendopo Bupati.
Sejak sore hingga malam hari, lantunan puji-pujian, doa, dan dzikir menggema dengan penuh kekhusyukan. Suasana religius yang kental tampak menyatu selaras dengan nilai-nilai budaya lokal yang terus dirawat oleh masyarakat setempat.
Sebagai bentuk penghormatan dan pelayanan kepada para jamaah yang hadir, pihak panitia menyediakan ribuan konsumsi secara swadaya.
”Kami menyiapkan 1.500 bungkus nasi untuk para jamaah. Ini adalah bentuk khidmah (pelayanan) kami kepada masyarakat yang antusias hadir menjaga tradisi ini,” ujar Gus Mamat, salah satu penggiat acara.
Sementara itu, Basori, tokoh penggiat Purnamaan, mengungkapkan rasa syukurnya atas konsistensi kegiatan ini yang telah berjalan selama satu setengah tahun. Menurutnya, mempertahankan kegiatan ini hingga bulan ke-18 bukanlah perkara mudah dan penuh dengan dinamika serta tantangan. Namun, semua hambatan berhasil dilalui berkat semangat kebersamaan.
”Alhamdulillah, perjalanan Purnamaan hingga bulan ke-18 ini menjadi bukti bahwa ketulusan, keikhlasan, dan semangat uri-uri (melestarikan) budaya yang sarat nilai spiritual mampu menyatukan banyak pihak. Kami akan terus berbenah agar kegiatan ini semakin baik dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” tutur Basori.
Kegiatan Purnamaan kini bukan lagi sekadar agenda rutin bulanan bagi warga Pasuruan. Gerakan ini telah bertransformasi menjadi ikhtiar kolektif untuk menjaga warisan leluhur, memperkuat fondasi spiritualitas, serta merawat identitas budaya lokal agar tidak tergerus oleh derasnya arus modernisasi.
Melalui konsistensi Purnamaan, masyarakat Pasuruan membuktikan bahwa kemajuan zaman dan kelestarian tradisi spiritual-budaya dapat berjalan beriringan secara harmonis di jantung kota. (wan/ian).

















