Jember, Kabarpas.com – Rumah Sakit Daerah (RSD) Kalisat mengambil peran strategis dalam pelaksanaan Program Magang KOPI MANIS 4.0 (Kolaborasi Pengembangan Kompetensi melalui Magang Antar Instansi), yang digagas Pemkab Jember melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM).
Dalam program pengembangan kompetensi aparatur sipil negara (ASN) berbasis praktik tersebut, RSD Kalisat ditunjuk sebagai wahana pembelajaran klinis bagi dokter, bidan, dan tenaga kesehatan dari sejumlah puskesmas jejaring rumah sakit.
Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Aparatur BKPSDM Jember, Artiantyo Wirjo Utomo menjelaskan bahwa KOPI MANIS 4.0 merupakan inovasi pengembangan kompetensi ASN melalui metode nonklasikal yang mengedepankan pengalaman belajar langsung di lapangan.
“Program Magang KOPI MANIS 4.0 adalah salah satu inovasi pengembangan kompetensi ASN Kabupaten Jember melalui metode nonklasikal. Jadi tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga melalui praktik kerja, pendampingan, kolaborasi, observasi, simulasi, dan pengalaman nyata di lapangan,” ungkapnya.
Menurutnya, program tersebut menerapkan pendekatan pembelajaran 10 persen formal learning, 20 persen social learning, dan 70 persen experiential learning, sehingga peserta memperoleh pengalaman belajar yang lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan pelayanan publik.
Pada pelaksanaan tahun ini, tema yang diangkat adalah penguatan kompetensi kegawatdaruratan maternal dan neonatal, dengan fokus peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam menangani kondisi darurat pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan bayi baru lahir.
“Tujuan utamanya adalah memperkuat kompetensi tenaga kesehatan puskesmas agar lebih siap melakukan asesmen awal, stabilisasi pra-rujukan, penanganan awal kegawatdaruratan, serta koordinasi rujukan dengan rumah sakit secara cepat, tepat, aman, dan terintegrasi,” katanya.
Dalam program tersebut, RSD Kalisat tidak hanya berfungsi sebagai rumah sakit rujukan, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran praktik klinis bagi tenaga kesehatan di wilayah kerjanya.
Artiantyo menjelaskan, peserta magang mendapatkan kesempatan mempelajari secara langsung alur pelayanan rumah sakit, tata laksana kegawatdaruratan maternal dan neonatal, hingga mekanisme koordinasi rujukan antara fasilitas kesehatan tingkat pertama dengan rumah sakit.
“RSD Kalisat dilibatkan sebagai wahana pembelajaran praktik klinis. Peserta belajar langsung mengenai alur pelayanan rumah sakit, tata laksana kegawatdaruratan maternal dan neonatal, koordinasi rujukan, serta praktik penanganan kasus di unit layanan yang relevan,” ujarnya.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, RSD Kalisat menyiapkan berbagai fasilitas pembelajaran, mulai dari narasumber, fasilitator, pembimbing klinis, clinical instructor, lokasi praktik, orientasi ruangan, simulasi, observasi pelayanan, praktik terbimbing, diskusi kasus, hingga evaluasi keterampilan peserta.
Program penguatan kompetensi maternal dan neonatal melalui KOPI MANIS 4.0 telah dilaksanakan di tiga rumah sakit daerah milik Pemkab Jember dan melibatkan 50 puskesmas dengan total 256 dokter, perawat, dan bidan.
Khusus di RSD Kalisat, peserta berasal dari 11 puskesmas jejaring, yakni Puskesmas Kalisat, Ledokombo, Silo I, Silo II, Sumberjambe, Mayang, Pakusari, Sukowono, Jelbuk, Arjasa, dan Mumbulsari.
“Keterlibatan dokter, perawat, dan bidan sangat penting karena pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal membutuhkan kerja tim yang solid. Penanganan kasus tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus kolaboratif mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan,” kata Artiantyo.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan semakin siap melakukan deteksi dini risiko, stabilisasi awal pasien, komunikasi rujukan, hingga tindak lanjut pelayanan ibu dan bayi di wilayah kerja masing-masing.
Artiantyo menuturkan bahwa KOPI MANIS 4.0 dibangun melalui kolaborasi lintas sektor. BKPSDM bertindak sebagai pengelola program pengembangan kompetensi ASN, mulai dari perancangan, koordinasi, monitoring, evaluasi, hingga tindak lanjut hasil magang.
Sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Jember berperan sebagai pembina teknis sektor kesehatan dan penerima manfaat program karena hasil penguatan kompetensi tersebut akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan puskesmas.
Di sisi lain, RSD Kalisat menyediakan lingkungan pembelajaran berbasis praktik klinis, sedangkan Program Studi Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Kampus Jember berperan sebagai pendamping akademik peserta magang.
“Dengan pembagian peran ini, KOPI MANIS 4.0 menjadi ekosistem pengembangan kompetensi yang lebih terintegrasi. BKPSDM mengelola tata kelola pengembangan kompetensi, Dinas Kesehatan memastikan relevansi teknis, rumah sakit menyediakan pengalaman praktik, dan perguruan tinggi memperkuat kualitas akademik pembelajaran,” jelasnya.
Menurut Artiantyo, manfaat program tidak hanya dirasakan peserta magang, tetapi juga seluruh pemangku kepentingan dalam sistem pelayanan kesehatan.
Bagi puskesmas, program ini memperkuat kapasitas tenaga kesehatan di lini terdepan. Sedangkan bagi RSD Kalisat, keterlibatan sebagai wahana pembelajaran memperkuat posisinya sebagai pusat rujukan sekaligus pusat pengembangan kapasitas jejaring layanan kesehatan.
“RSD Kalisat tidak hanya menerima rujukan, tetapi juga berperan aktif meningkatkan kualitas jejaring rujukan agar kasus yang dirujuk lebih siap, lebih terkomunikasikan, dan lebih terkoordinasi. Ini akan berdampak pada efektivitas pelayanan rumah sakit dan keselamatan pasien,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa KOPI MANIS 4.0 merupakan implementasi pembangunan sumber daya manusia dan reformasi birokrasi yang diusung Pemerintah Kabupaten Jember.
“Program ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ini adalah model pengembangan kompetensi ASN berbasis praktik langsung, kolaborasi lintas instansi, dan kebutuhan nyata pelayanan publik. Harapannya dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak sekaligus mendukung upaya penurunan risiko kematian ibu dan bayi di Kabupaten Jember,” pungkasnya. (dan/ian).

















