Pasuruan, Kabarpas.com – Di tengah derasnya arus modernisasi dan pesatnya perkembangan budaya digital, Universitas Yudharta Pasuruan (UYP) tetap kokoh berdiri pada komitmennya untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan nilai-nilai multikulturalisme. Memasuki usia ke-24 tahun, kampus yang dikenal dengan semangat keberagamannya ini merayakan Dies Natalis 2026 melalui perayaan yang sarat akan makna kolaborasi dan pelestarian kebudayaan.
Berbeda dari perayaan seremonial pada umumnya, Dies Natalis tahun ini dirancang sebagai ruang kolaborasi kreatif yang melibatkan mahasiswa, pelajar, komunitas seni, hingga masyarakat umum. Salah satu agenda utama yang sukses menyedot perhatian publik adalah Festival Seni Tari dan Lukis Tingkat Jawa Timur yang digelar di lingkungan kampus setempat.
Ajang bergengsi berskala provinsi ini terselenggara atas kerja sama sinergis antara Panitia Dies Natalis ke-24 Universitas Yudharta Pasuruan dengan Event Organizer (EO) kesenian Pasuruan, Kabarpas.com dan surup.co. Sinergi ini menjadi simbol penting bahwa dunia akademik dan para praktisi seni dapat berjalan beriringan dalam menjaga eksistensi seni budaya di tengah tantangan zaman.
Penjabat (Pj) Festival Seni Tari dan Lukis, Masloem, menjelaskan bahwa festival ini mengusung visi penting untuk mewadahi potensi generasi muda sekaligus mengenalkan eksistensi kampus kepada masyarakat luas.
”Tujuan utama acara ini adalah menjadi wadah ekspresi, kreativitas, dan pelestarian budaya bagi generasi muda. Selain itu, melalui pendekatan seni dan budaya, kami ingin mengenalkan Universitas Yudharta Pasuruan secara lebih luas kepada masyarakat Jawa Timur,” ujar Masloem di sela-sela acara.
Sejak pagi hari, suasana kampus Universitas Yudharta Pasuruan dipenuhi energi positif dari para peserta yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Halaman kampus yang biasanya dipenuhi aktivitas akademik, seketika berubah menjadi ruang ekspresi yang hidup dan penuh warna.
Para peserta lomba tari tampil memukau dengan busana tradisional yang memikat, lengkap dengan riasan artistik dan ornamen budaya khas daerah masing-masing. Sementara di sudut lain, peserta lomba lukis tampak sibuk menyiapkan kanvas, kuas, serta cat warna untuk menuangkan gagasan dan imajinasi mereka.
Gelak tawa, sorak semangat, dan tepuk tangan terdengar bersahutan sepanjang acara. Banyak peserta tampak antusias mengabadikan momen bersama rekan satu tim maupun peserta dari sekolah dan komunitas lain. Bagi sebagian besar peserta, festival ini bukan sekadar kompetisi, melainkan pengalaman berharga untuk menunjukkan identitas budaya mereka kepada publik yang lebih luas.
Saat pertunjukan tari dimulai, suasana menjadi semakin hidup. Gerakan energik yang berpadu dengan alunan musik tradisional berhasil memikat perhatian penonton. Beberapa penampilan bahkan mendapatkan standing applause karena dinilai mampu menghadirkan pesan budaya yang kuat, namun dikemas secara modern dan dekat dengan selera generasi muda. Sebagai informasi, Lomba Seni Tari Tingkat Jawa Timur ini membuka kategori yang cukup luas, mulai dari tingkat TK hingga kategori Umum.
Sementara itu di area Lomba Lukis Tingkat Jawa Timur—yang diperuntukkan bagi kategori SLTA hingga Umum—para pengunjung tampak berkerumun menikmati proses kreatif para peserta. Sapuan warna di atas kanvas perlahan membentuk cerita tentang budaya lokal, kehidupan sosial, hingga keresahan generasi muda masa kini. Banyak karya yang memadukan unsur tradisional dengan sentuhan visual kontemporer, menunjukkan bahwa budaya dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar identitasnya.
Pihak penyelenggara menilai festival ini menjadi ruang penting untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya seni dan budaya sebagai bagian dari karakter bangsa. Melalui momen ini, UYP menegaskan fungsinya yang tidak hanya sebagai tempat belajar teori, tetapi juga ruang bertemunya ide, kreativitas, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Harapan besar pun disematkan pada keberlanjutan dampak dari acara ini. Sekretaris Panitia Dies Natalis ke-24 UYP, Alfandi Jaelani, menyampaikan target jangka panjang yang ingin dicapai pihak kampus melalui festival seni ini.
”Kami berharap acara ini dapat menjaring talenta-talenta seni berbakat di wilayah Jawa Timur. Di sisi lain, festival ini juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat branding Universitas Yudharta Pasuruan sebagai kampus yang mendukung penuh pengembangan minat, bakat, serta kelestarian budaya lokal,” ungkap Alfandi Jaelani.
Melalui momentum Dies Natalis ke-24 ini, Universitas Yudharta Pasuruan ingin menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada nostalgia masa lalu. Budaya harus terus dihidupkan, dirayakan, dan diwariskan dengan cara-cara yang relevan bagi generasi Milenial dan Gen Z. Sebab di tengah dunia yang semakin global, menjaga jati diri budaya menjadi hal yang jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren sesaat. (ajo/ian).

















