Jakarta, Kabarpas.com – Di tengah meningkatnya persaingan global, krisis kualitas literasi akademik, dan melebarnya kesenjangan akses terhadap pendidikan tinggi berkualitas, Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Cabang Ciputat bersama PC PMII Ciputat meluncurkan Future Scholars Development (FSD), sebuah program inkubasi akademik yang dirancang melahirkan generasi intelektual Indonesia yang kompetitif, berintegritas, dan siap menembus perguruan tinggi terbaik dunia.
Peluncuran berlangsung di Aula NICT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini selain menjadi agenda organisasi alumni, juga menghadirkan gagasan strategis mengenai masa depan pendidikan Indonesia: bagaimana menyiapkan generasi muda agar mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar nilai, etika, dan tanggung jawab sosialnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi paradoks pendidikan serius. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat, namun akses terhadap beasiswa internasional, kolaborasi riset global, publikasi bereputasi, dan mobilitas akademik masih dinikmati kelompok yang relatif terbatas. Banyak mahasiswa cerdas dan potensial gagal melangkah lebih jauh bukan karena kurang potensi, tapi karena tidak punya pendampingan, akses informasi, kemampuan bahasa asing, mentoring, maupun literasi teknologi yang memadai.
Kondisi tersebut semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Di satu sisi AI membuka peluang akselerasi pembelajaran luar biasa, tetapi di sisi lain memunculkan tantangan etika, integritas akademik, dan risiko ketergantungan yang dapat menggerus kualitas intelektual generasi muda bila tidak tepat mengelolanya.

Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., dalam keynote speech-nya menegaskan, masa depan pendidikan tidak cukup mengandalkan kecerdasan intelektual semata. Menurutnya, dunia butuh generasi yang mampu memadukan sains, teknologi, spiritualitas, dan integritas moral.
“Kepemimpinan peradaban masa depan sangat bergantung pada integrasi antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Pemanfaatan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan harus dibingkai etika akademik yang ketat guna memastikan setiap karya ilmiah yang dihasilkan tidak hanya berbobot secara akademis, namun berintegritas tinggi serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas,” tegas Menteri Agama.
Menteri Agama juga mengingatkan, peluang akademik global saat ini jauh lebih luas dibanding cuma beasiswa magister dan doktoral. Indonesia butuh lebih banyak mahasiswa dan peneliti yang berani masuk ke ruang-ruang kolaborasi internasional, pertukaran ilmiah, riset lintas negara, hingga pengembangan solusi atas berbagai persoalan dunia seperti perubahan iklim, perdamaian, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Baginya, investasi terbesar bangsa hari ini bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga fondasi intelektual yang mampu melahirkan pemimpin peradaban masa depan.
Direktur FSD: Kita Tidak Boleh Lagi Jadi Penonton Perubahan
Direktur Future Scholars Development, H. Papay Supriatna, menyatakan bahwa FSD lahir dari keresahan terhadap masih banyaknya kader dan mahasiswa potensial yang gagal menembus ruang akademik global karena ketiadaan ekosistem pembinaan yang sistematis dan terukur.
Menurutnya, Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan talenta, namun yang kurang adalah upaya sistemik yang menjembatani potensi dengan kesempatan.
“FSD tidak hanya diposisikan sebagai wadah pelatihan bahasa formal, melainkan sebuah ekosistem pembinaan holistik. Generasi muda saat ini jangan hanya jadi penonton dalam dinamika perubahan global, melainkan harus mengambil peran aktif sebagai penulis utama sejarah perubahan dengan berpikir global, bergerak konsisten, serta menghadirkan dampak bagi masyarakat luas,” tegas Papay Supriatna.
Papay menilai tantangan pendidikan Indonesia saat ini lebih dari soal akses masuk perguruan tinggi, melainkan bagaimana memastikan generasi muda berkemampuan dalam kompetisi pada standar global. Karena itu FSD dirancang mengintegrasikan penguatan bahasa internasional, pengembangan kapasitas riset, penyiapan dokumen akademik, dan pemanfaatan AI secara etis dalam satu ekosistem pembelajaran yang terukur.
“Selama ini banyak mahasiswa berhenti pada mimpi. Kami ingin membantu mereka sampai pada tahap aplikasi, diterima, berangkat, dan berhasil. FSD dibangun untuk membuka akses antara cita-cita dan pencapaian,” ujarnya.
Ciputat Inkubasi Gerakan Intelektual
Ketua IKA PMII Cabang Ciputat, H. Muhammad Jamilun, menegaskan bahwa FSD merupakan bentuk tanggung jawab moral alumni dalam memastikan keberlanjutan regenerasi intelektual bangsa. Menurutnya, Indonesia butuh lebih banyak sarjana yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki komitmen kebangsaan dan keberpihakan sosial. Dalam sejarahnya, Ciputat adalah inkubasi para intelektual berdedikasi, kuat dalam karakter dan nilai-nilai untuk hadir kepada masyarakat, bangsa dan bernegara.
Sementara itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepuddin Jahar, Ph.D., menyebut FSD sebagai terobosan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Ia menilai penguasaan bahasa internasional dan literasi AI akan adalah faktor penentu dalam kompetisi akademik global pada dekade mendatang.
Menurutnya, Ciputat memiliki sejarah panjang sebagai pusat lahirnya pemikiran Islam progresif dan intelektual. Kehadiran FSD memperkuat peran strategis tersebut dengan menyiapkan generasi baru yang mampu menjawab tantangan dunia yang semakin kompleks.
Menjawab Tiga Krisis Pendidikan Sekaligus
Menurut Muhammad Kholis Hamdy, selaku PIC acara launching, FSD secara khusus dirancang menjawab tiga persoalan mendasar yang saat ini menghambat generasi muda Indonesia mengakses pendidikan tinggi berkualitas dan beasiswa global, yaitu:
1. Rendahnya kemampuan bahasa asing yang terstandarisasi internasional.
2. Minimnya pendampingan penyusunan dokumen akademik berstandar global.
3. Rendahnya literasi penggunaan Artificial Intelligence secara etis dan bertanggung jawab.
Melalui sistem pembelajaran berjenjang selama empat bulan, peserta akan mendapatkan penguatan TOEFL, IELTS, penyusunan proposal riset, pengembangan portofolio beasiswa, pemetaan profesor internasional, strategi cold-emailing, hingga penguasaan academic prompting berbasis AI yang bebas plagiarisme.
Pendidikan Indonesia Butuh Gerakan Baru
Peluncuran FSD sinyal penting bahwa transformasi pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada negara atau kampus. Organisasi alumni, masyarakat sipil, komunitas intelektual, dan dunia profesional harus mengambil bagian dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif dan kompetitif.
Di tengah bonus demografi yang sedang berlangsung, Indonesia hanya memiliki satu pilihan: menyiapkan generasi unggul yang mampu memimpin perubahan global atau tertinggal dalam kompetisi dunia yang semakin ketat.
Future Scholars Development menawarkan sebuah model baru. Sebuah platform yang menawarkan sejumlah program pelatihan sekaligus menginisiasi gerakan kolektif membangun generasi pembelajar sepanjang hayat yang berakar pada nilai, bergerak dengan ilmu, dan bertumbuh untuk dunia.
Rangkaian acara peluncuran diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh H. Muhibbuddin Alawy. Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran peserta, Future Scholars Development (FSD) telah membuka Open Registration dan Diagnostic Placement Test bagi calon peserta dari berbagai latar belakang akademik dan profesi. (ajo/ian).

















