Menu ✖

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 15 Sep 2026

Cegah Kebakaran Hutan Meluas, Suli Da’im Dorong Mitigasi Diperkuat


					Cegah Kebakaran Hutan Meluas, Suli Da’im Dorong Mitigasi Diperkuat Perbesar

Surabaya, Kabarpas.com – Kebakaran hutan kembali terjadi di tengah kondisi kemarau yang membuat sejumlah kawasan di Jawa Timur semakin rentan terbakar.

Terbaru, kobaran api melanda kawasan hutan Gunung Prongos, Kabupaten Ponorogo. Petugas gabungan bahkan harus berjibaku memadamkan api secara manual lantaran medan yang berbatu dan curam menyulitkan mobil tangki menjangkau lokasi.

Kebakaran terjadi di petak 117 F yang mencakup wilayah Desa Koripan dan Desa Bekare, Kecamatan Bungkal, Ponorogo. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 5 hektare.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur dari Fraksi PAN, Suli Daim, meminta kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau sangat mungkin kembali terjadi apabila langkah pencegahan tidak diperkuat.

“Memang kejadian kebakaran hutan dan lahan itu banyak faktor. Pertama karena kondisi kemarau. Dampaknya jelas kekurangan air, sementara temperatur tinggi,” kata Suli Daim pada Selasa 15 September 2026.

Selain faktor cuaca, politikus PAN tersebut menilai perilaku masyarakat juga menjadi salah satu titik rawan yang perlu diantisipasi.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membuang puntung rokok, terlebih di kawasan hutan dan lahan yang kondisi vegetasinya mengering.

“Faktor kehati-hatian menjadi penting. Jangan gampang membuang puntung rokok, karena itu juga bisa memicu terjadinya kebakaran,” ujarnya.

Menurut Suli, pemerintah tidak cukup hanya bergerak setelah api muncul. Pemetaan wilayah rawan kebakaran harus dilakukan sejak awal, terutama pada kawasan yang memiliki tutupan pohon jati.

Saat kemarau, daun jati yang mengering dan berguguran akan menumpuk di permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat material di sekitar kawasan hutan mudah terbakar ketika terkena sumber api.

 

“BPBD setempat harus memetakan potensi-potensi yang rawan, terutama kawasan yang banyak ditumbuhi pohon jati. Saat musim seperti ini daunnya mengering dan berguguran sehingga mudah memicu kebakaran,” jelasnya.

 

Persoalan lain yang tidak kalah penting, lanjut Suli, adalah aktivitas masyarakat di sekitar kawasan hutan.

 

Ia mencontohkan kebiasaan membakar sampah yang dilakukan tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan. Api yang awalnya kecil bisa dengan mudah menjalar ketika berhadapan dengan daun kering, suhu tinggi dan tiupan angin.

 

Karena itu, edukasi masyarakat dinilai menjadi salah satu kunci utama pencegahan kebakaran.

 

“Sesungguhnya yang terpenting adalah edukasi kepada masyarakat. Kalau itu bisa dilaksanakan, saya kira bisa meminimalisir kejadian yang berulang,” tegasnya.

 

Suli menambahkan, potensi kebakaran semakin tinggi ketika kemarau berlangsung panjang.

 

Terbatasnya ketersediaan air bahkan telah memunculkan persoalan kekeringan di sejumlah daerah.

Dalam kondisi tersebut, api akan lebih mudah membesar apabila disertai angin kencang.

 

“Panas, kemudian timbul api, lalu semakin membesar karena angin juga kencang. Kondisi seperti itu yang harus kita antisipasi,” katanya.

 

Suli mengingatkan, Jawa Timur memiliki sejumlah daerah yang memiliki kerentanan terhadap bencana, baik banjir, tanah longsor maupun kekeringan.

 

Mitigasi bencana tidak boleh dilakukan dengan pola reaktif. Pemerintah daerah perlu memiliki pemetaan risiko yang jelas sekaligus menyiapkan langkah pencegahan berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah.

 

“Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah mendeklarasikan ada 24 kabupaten/kota yang rentan bencana. Baik banjir, tanah longsor maupun kekeringan,” pungkas Suli Daim.

 

Ia berharap pemetaan kawasan rawan, edukasi masyarakat serta kesiapan petugas dapat berjalan beriringan. Dengan begitu, potensi kebakaran hutan selama musim kemarau bisa ditekan sejak sumber persoalannya, bukan hanya mengandalkan penanganan ketika api sudah membesar. (bro/ian).

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Baca Lainnya

Dukung Tumbuh Kembang Anak, Seminar Parenting Talk “Mencintai, Tanpa Melukai” Siap Digelar di Perpusnas RI

6 November 2026 - 11:26

Menuju POPDA XV dan PEPARPEDA III, Mas Adi Titip Pesan Sportivitas dan Jaga Nama Baik Kota Pasuruan

5 November 2026 - 19:10

Kejuaraan Atletik Piala Bupati Jember Rampung, PASI Minta Kesiapan Medis Jadi Perhatian

5 November 2026 - 18:55

PWNU-Polda Jatim Siapkan Kerjasama Program “Jogo Pondok

5 November 2026 - 15:39

Empat SD Terbaik Siap Berebut Gelar Bintang Juara di Grand Final Liga Bintang Juara GTV

5 November 2026 - 15:34

LAZISNU se-Jatim Kirim Satu Kontainer Bantuan untuk Penyintas Gempa Flores NTT

4 November 2026 - 18:48

Trending di KABAR NUSANTARA