Malang, Kabarpas.com – Tim peneliti dari Universitas Brawijaya (UB) menjalin kemitraan strategis dengan PT Great Giant Pineapple untuk mengembangkan inovasi baru dalam mengestimasi luas daun tanaman nanas. Menggunakan metode Average Leaf Area (ALA), tim peneliti berhasil mengintegrasikan penggunaan citra kamera smartphone dengan perangkat lunak ImageJ guna mendukung pengamatan vegetatif tanaman secara lebih praktis.
Penelitian kolaboratif ini berlangsung selama bulan Juli hingga Oktober 2026 di area perkebunan PT Great Giant Pineapple, Kabupaten Lampung Tengah. Proses evaluasi melibatkan tanaman nanas kultivar GP3 yang telah berumur delapan bulan.
Adapun tim peneliti dari UB terdiri atas Dewi Ratih Rizki Damaiyanti, Akbar Saitama, Ahmad Ilham Akbar. Sementara dari PT Great Giant Pineapple, melibatkan Pineapple Improvement Sub Dept Head, Nungki Kusuma Astuti, dan Peneliti Muda Process Pineapple, Pandu Risantyo.
Dewi Ratih Rizki Damaiyanti, salah satu anggota tim peneliti, menjelaskan bahwa metode ini sangat membantu efisiensi pekerjaan di lapangan. Pengambilan gambar cukup dilakukan menggunakan kamera smartphone dengan bantuan penggaris sebagai skala dan karton biru sebagai latar.
”Pendekatan metode ini sangat menyederhanakan tahap pendugaan. Setelah kita mendapatkan citra digitalnya dan membentuk koefisien rata-rata luas daun, pengukuran luas setiap helaian tidak perlu lagi diulang secara manual pada seluruh tanaman. Kita bisa langsung memperkirakan luas daun total hanya dengan mengalikannya dengan jumlah daun yang ada,” jelas Dewi Ratih.
Berdasarkan hasil pengolahan citra daun, tim berhasil merumuskan koefisien ALA sebesar 175,6791 cm² per helai daun. Tercatat, rerata luas daun total berdasarkan pengukuran ImageJ mencapai 5.526,13 cm² per tanaman, sementara estimasi melalui ALA berada di angka 5.326,59 cm² per tanaman.
Kedua metode tersebut menunjukkan hubungan linear yang kuat dengan koefisien determinasi (R²) mencapai 0,8483 pada sampel penelitian. Uji validasi internal juga mencatatkan rata-rata kesalahan persentase absolut sebesar 20,98%, yang menunjukkan metode ALA sangat potensial digunakan sebagai pendugaan awal sesuai dengan kebutuhan ketelitian.
Meski demikian, tim peneliti menyadari bahwa inovasi ini masih memiliki ruang untuk disempurnakan, terutama terkait variasi fisik tanaman di lapangan.

Sementara itu, Nungki Kusuma Astuti menambahkan, keragaman ukuran daun tentu menjadi perhatian utama kami dalam pengembangan metode ini selanjutnya. Tanaman dengan jumlah daun yang sama bisa saja memiliki luas daun total yang berbeda.
“Oleh karena itu, pengujian berikutnya akan lebih mempertimbangkan ukuran daun yang representatif, pengelompokan tanaman, hingga validasi pada kelompok tanaman baru di blok lain,” ujarnya.
Kolaborasi akademik dan industri ini diharapkan dapat melengkapi data pengamatan jumlah daun dalam mengevaluasi kondisi tanaman secara keseluruhan di lingkungan perkebunan.
Selain menghasilkan terobosan teknologi pertanian, kegiatan ini juga merupakan perwujudan komitmen bersama terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Terobosan ini secara langsung mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan pengetahuan, serta SDG 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Ke depannya, pengembangan inovasi ini akan diarahkan pada standardisasi teknis pengambilan citra, validasi pada berbagai umur tanaman, dan pengamatan berulang untuk menyempurnakan sistem pemantauan pertumbuhan tanaman nanas skala industri. (***).

















