Jombang, Kabarpas.com — Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggandeng Dunia Santri Community (DSC) menggelar Halaqah Santri Digital 2026 di Hotel Azana, Jombang, pada Kamis–Jumat (29–30/10/2026). Forum tahunan ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam menekan angka perundungan sekaligus memperkuat kecakapan literasi digital di lingkungan pesantren.
Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, acara ini mengusung tajuk “Menarasikan Pesantren Aman: Ruang Tumbuh Tanpa Rasa Takut”. Sekitar 100 peserta hadir melintasi berbagai unsur, mulai dari pimpinan dan pengasuh pondok, ustadz/ustadzah, santri, konselor, akademisi, hingga pengelola media pesantren.
Panitia pelaksana sekaligus Kabag Humas Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Jatim, Dr. Zainal Muttaqin, menyampaikan bahwa agenda ini bukan sekadar seminar, melainkan forum dialog yang dirancang untuk menghasilkan aksi konkret.
”Kegiatan ini mempertemukan perspektif pengasuhan pesantren, adab, perlindungan anak, dan literasi digital guna mendorong lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bermartabat,” kata Zainal.
Dari forum ini, peserta ditargetkan menyusun peta jalan dan rekomendasi aplikatif bagi pesantren, mencakup penguatan regulasi anti-perundungan, pembangunan kanal pelaporan yang terpercaya, hingga prosedur pendampingan bagi korban.
Senada dengan hal itu, Direktur DSC Dr. Abdulloh Hamid, M.Pd., menekankan urgensi internalisasi nilai empati, adab, dan persaudaraan dalam ritme keseharian santri. Ia menggarisbawahi pentingnya kepekaan terhadap berbagai bentuk kekerasan verbal, fisik, hingga intimidasi siber (cyberbullying).
”Peserta diharapkan mampu mengenali bentuk, tanda, dampak, dan faktor risiko bullying, termasuk perundungan di ruang digital serta penyalahgunaan relasi kuasa,” jelas Gus Hamid sapaan akrabnya.
Ia menambahkan, penguatan kapasitas pengelola dan santri harus beriringan dengan mekanisme penanganan yang berpihak pada keselamatan serta kerahasiaan identitas korban. Pemanfaatan platform digital diharapkan bertransformasi menjadi sarana edukasi positif alih-alih sarana perundungan.
Melalui sinergi ini, Pemprov Jatim dan DSC berharap pesantren di seluruh penjuru Jawa Timur kian mantap berperan tidak hanya sebagai mercusuar keilmuan agama, tetapi juga ruang bernaung yang aman dan suportif bagi santri untuk berproses tanpa rasa takut. (ajo/ian).

















