Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 19 Des 2018

Cegah Konflik Sosial, L-KSP Tekankan Gerakan Literasi Harus Dimasifkan di Setiap Kelompok


Cegah Konflik Sosial, L-KSP Tekankan Gerakan Literasi Harus Dimasifkan di Setiap Kelompok Perbesar

Reporter : Januar Fahmi

Editor : Agus Hariyanto

 

Surabaya, Kabarpas.com – Jangan Suriahkan Indonesia…!” Demikian tema Diskusi publik yang digelar oleh Lembaga Kajian Strategi dan Pembangunan Pemerintah (L-KSP) di aula Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Kamis (19/12/2018) .

Dalam Diskusi publik tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya yaitu Dr. H.Suis Qoim Abdullah (Dosen Pasca Sarjana), Abd.Holil,S.Hum (Gerakan Pemuda Ansor Surabaya), Nafik Muthorin,MA.Hum, (Pemuda Muhammadiyah), serta Abdurrohman Wahid (Direktur L-KSP).

Acara tersebut disambut antusias dan dihadiri ratusan Mahasiswa UINSA yang tergabung dari beberapa organisasi. Serta dihibur penampilan selebgram ternama Veve Zulfikar.

Dosen Pasca Sarjana UIN SA Dr. Suis Qoim menjelaskan, seminar ini merupakan bagian dari gerakan menolak segala upaya yang bisa menjadikan Indonesia luluhlantak seperti Suriah.

Ia menambahkan, edukasi politik kepada masyarakat sangat diperlukan untuk memahamkan masyarakat terkait mekanisme politik.

“Politik itu adalah hal yang biasa. Biasa dimana ada adu ide, gagasan, pemikiran dan sebagainya,” ujarnya.

Menurutnya, hal yang paling fundamental agar Indonesia tidak jatuh ke dalam kondisi seperti Suriah, yakni tidak mempolitisasi agama.

Sementara itu, Abdurrohman Wahid selaku Direktur L-KSP mengatakan, adanya potensi perpecahan dalam kerukunan sosial di Indonesia menjelang Pemilu 2019.

Meski begitu, kata Wahid hal itu hanyalah potensi dan tidak terlalu besar jika masyarakat mampu untuk memahami mekanisme politik, khususnya generasi milineal yang akan menduduki 48% dari pemilih pada pemilu 2019.

“Harus diberikan pemahaman segala usaha memakai agama untuk kepentingan politik harus ditolak,” ungkapnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai Ketum PC PMII Ciputat ini juga menampik keras segala gerakan makar yang mengatas namakan agama, bahasa dan simbol agama yang memang efektif untuk mengelabui masyarakat, seperti akhir-akhir ini ramai terkait pembakaran bendera.

Padahal menurut Wahid tidak ada teks Alquran maupun hadis yang mendukung klaim tersebut.

Ia menyatakan demikian, melihat adanya beberapa kelompok yang gemar menggunakan mimbar masjid untuk hujatan politik sudah kelewatan dalam menyudutkan Pemerintahan.

Dia menekankan, gerakan literasi harus dimasifkan di kelompok manapun untuk mencegah kerukunan sosial terpecah belah.

“Jika gerakan Literasi ini tidak dilakukan maka kerukunan sosial akan terpecah belah, dan akan menjadi semakin rentan,” ujarnya (jan/gus).

Artikel ini telah dibaca 46 kali

Baca Lainnya

Jember Mulai Tinggalkan Sistem Open Dumping, Pemkab Dorong Warga Kelola Sampah Mandiri

20 Mei 2026 - 14:57

Baru Rampung 30 Persen, Konsep Street Food Jember Usung Nuansa Nusantara dan Dunia

20 Mei 2026 - 14:43

Gus Hery: Intelektual Muda NU yang Teduh, Tajam, dan Menembus Lintas Jejaring

20 Mei 2026 - 14:27

Nama BPR Jwalita Berubah Jadi Bank Trenggalek, Begini Kata Ketua Pansus II

20 Mei 2026 - 11:36

Kabar Baik Bagi Para Pekerja di Trenggalek, Perda Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Segera Diundangkan

20 Mei 2026 - 11:15

Mahasiswa Doktoral KPI UIN Jakarta Gelar “The Doctor Care”, Salurkan Bantuan dan Cek Kesehatan Gratis

18 Mei 2026 - 09:10

Trending di KABAR NUSANTARA