Bogor, Kabarpas.com – Lembaga Kajian Strategi dan Pembangunan Pemerintah (LKSP) bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), melaksanakan kegiatan Lokakarya Sawit yang dihadiri oleh para pemuda, dalam hal ini mahasiswa/I dari kampus yang ada di Jabodetabek.
Kegiatan yang dilaksanakan di Bogor Valley Hotel, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat ini turut dihadiri oleh Abdurrohman Wahid selaku Direktur LKSP, serta Kepala BPDPKS yang dalam hal ini diwakili oleh Aida Fitria, Kepala divisi Lembaga Kemasyarakatan dan Civil Society.
Pada kesempatan itu, Abdurrohman menyampaikan di hadapan para peserta kegiatan bahwa LKSP sebagai sebuah Lembaga yang Concern pada Kebijakan Publik sangat menaruh perhatian yang besar dalam industri dan ekosistem Bioenergi Kelapa Sawit tanah air. Menurutnya, perhatian ini harus dibersamai dengan kesadaran bahwa pentingnya mengawasi dan memahami secara utuh dari hulu ke hilir di industri sawit ini sebagai sebuah rantai pasok yang berkontribusi terhadap perekonomian negara Indonesia.
“Hal ini berkaitan dengan tujuan dari kegiatan ini yakni untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan tentang Peran Pemuda dalam transisi energi berkelanjutan berbasis sektor kelapa sawit,” ujar pria yang akrab disapa Gus Rowman Wahid tersebut.
Lokakarya ini dihadiri oleh 5 Narasumber yang terdiri dari Organisasi yang bergerak dibidang Energi dan Kelapa Sawit, di antaranya Iryan Permana Dharma S.E. mewakili Direktorat EBT kementerian ESDM RI, Normansyah Syahruddin, M.Eng.Sc, PhD. Mewakili Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI. Akhmad Indradi, S.TP, M.Si, Wakil Sekretaris Jenderal Litbang DPP APKASINDO, hadir juga Tofan Mahdi, Kepala Bidang Komunikasi GAPKI serta Hendro Kartiko, S.P, Ketua Umum Forum Pemuda Sawit Indonesia.
Dalam kesempatannya kelima narasumber yang telah hadir menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Bioenergi dan Pemahaman Kelapa Sawit yang harus mampu dilakukan oleh Pemuda Indonesia saat ini.
Sebelumnya, pada Opening Ceremony yang dibuka oleh Aida Fitriah, secara spesifik beliau menyampaikan soal Program BPDPKS yaitu pengembangan kelapa sawit berkelanjutan yang di antaranya memiliki beberapa tujuan, yakni: mendorong penelitian dan pengembangan, promosi usaha, meningkatkan sarana prasarana pengembangan industri, pengembangan biodiesel, replanting, peningkatan jumlah mitra usaha dan jumlah penyaluran dalam bentuk ekspor, serta edukasi sumber daya masyarakat mengenai perkebunan kelapa sawit. Kemudian ia juga menyampaikan kepada para pemuda bahwa harus mampu memahami peran penting generasi muda dalam mengawal dan menggerakan industri sawit dan membantu pemerintah mensosialisasikan kampanye positif sawit baik.
Selanjutnya dalam pemaparannya, Akhmad Indradi mengupas mengenai masa muda yang merupakan masa yang paling penting dalam meniti kehidupan, karena pada masa itu harus menentukan pilihan-pilihan hidup untuk membuat keputusan yang tepat guna mencapai cita-cita dan masa depan yang baik.
“Satu keputusan yang dibuat pemuda adalah memilih jenis industri yang akan ditekuni untuk masa depan. Jenis industri yang dipilih semestinya adalah industri yang trendnya naik, seperti industri perkebunan sawit,’’ ucap Akhmad Indradi.
Bukan tanpa sebab menjatuhkan pilihan pada sektor perkebunan sawit, karena sawit adalah sumber bioenergi dan menjadi salah satu industri yang menjadi trend ke depan.
“Dunia tidak bisa terus menerus mengandalkan energi dari bahan bakar yang berasal dari fosil, karena cadangannya yang makin menipis dan makin kuatnya isu kerusakan lingkungan. Untuk itu, menurutnya sawitlah yang menjadi solusi untuk menghasilkan energi baru terbarukan di masa mendatang,” terangnya.
Tofan Mahdi dari GAPKI juga berbicara tentang potensi kelapa sawit yang menjadi sektor unggulan dalam penerimaan negara.
“Peran dan kontribusi pemuda yang diharapkan dan layak di sektor bioenergi berbasis sawit antara lain aktif memberikan pendapat, saran dan masukan tentang arah industry pengembangan bioenergi berbasis sawit berkelanjutan. Selain itu, generasi muda kini mampu berkolaborasi dengan industri dan perguruan tinggi untuk mengembangkan berbagai penelitian dan menghasilkan inovasi dan produk bioenergi berbasis sawit yang andal, efisien dan berdaya saing. Tidak hanya itu, pemuda juga turut andil dalam menyebarluaskan informasi tentang manfaat positif kelapa sawit, berperan aktif dalam mendorong pemanfaatan energi berbasis kelapa sawit sebagai energi terbarukan yang memiliki potensi besar di Indonesia dapat terpenuhi,” ujarnya saat sesi talkshow dalam lokakarya tersebut.
Senada dengan apa yang menjadi topik pembahasan pada lokakarya ini, Normansyah Syahruddin, mewakili Kementerian Pertanian lebih menekankan pentingnya Sertifikasi ISPO bagi Petani Sawit. Petani kelapa sawit swadaya yang belum bergabung ke dalam kelembagaan ekonomi petani, pada umumnya mereka menjual kelapa sawit kepada pedagang pengumpul, karena belum bermitra dengan pabrik kelapa sawit.
“Beberapa permasalahan yang dihadapi petani kelapa sawit swadaya sebenarnya sebagian besar diakibatkan tidak berfungsinya kelembagaan ekonomi petani (Gapoktan dan Kelompok tani) sehingga berdampak pada rendahnya daya saing dan efisiensi usaha.
Melalui sertifikasi ISPO, petani swadaya diwajibkan tergabung kedalam kelompok tani dan Gapoktan. Dalam program ini kelompoktani berfungsi sebagai wahana belajar dan wahana kerjasama baik dalam pemasaran, penyediaan sarana produksi, pemeliharaan jalan produksi maupun usaha pelestarian lingkungan,” paparnya.
Dengan sertifikasi ISPO beberapa manfaat yang diharapkan dapat dirasakan secara langsung oleh petani diantaranya adalah meningkatnya harga jual TBS kelapa sawit sebagai akumulasi dari beberapa hal yaitu meningkatnya kualitas TBS petani, berkurangnya rantai pemasaran TBS, dan meningkatnya kualitas jalan produksi yang berdampak pada penurunan biaya transportasi.
Hendro Kartiko, Ketua Umum Forum Pemuda Sawit Indonesia juga mengajak seluruh pemuda untuk Bersama sama memfokuskan diri dalam perkembangan kelapa sawit di tanah air.
“Kelapa sawit ini potensi nya sangat besar sekali, Bioenergi yang dikembangkan oleh pemerintah membuka peluang bagi pemuda untuk dapat memberikan kontribusinya. Lupakan energi fosil, saatnya beralih ke energi terbarukan. Saatnya yang muda yang berkontribusi,” tandasnya.
Acara lokakarya ini berjalan dengan antusias, setelah mendapatkan materi yang cukup, peserta kemudian melanjutkan agenda FGD yang membahas tentang energi terbarukan dan peran yang bisa diberikan dalam pemanfaatan Kelapa sawit sebagai Energi terbarukan. (***).

















