Laporan: Sugeng Hariyono, reporter Kabarpas.com
KABARPAS.COM – MATA Fatimah tampak berkaca-kaca saat jurnalis Kabarpas.com beserta awak media lainya berkunjung ke rumahnya di Gang Jambangan 2, Kelurahan Purworejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan pada Selasa (2/5/2023) siang.
Wanita yang memiliki nama lengkap Ummu Fatimah Qomariyah ini menjadi salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang berhasil dievakuasi dari perang Sudan.
Remaja berusia 20 ini mengaku merasa lega setelah bisa dipulangkan bersama rombongan kloter pertama 385 WNI asal Indonesia dari medan perang saudara Sudan. Dia bersama 37 WNI asal Jawa Timur pengungsi korban perang sudan ini sampai di Surabaya pada Minggu (30/4/2023) lalu.
“Rasanya senang sekali ketika bisa bertemu kembali dengan orang tua dan keluarga,” ujar mahasiswi International University of Africa (UIA) tersebut.
Mahasiswi jurusan Syariah ini pun lantas bercerita bagaimana perjuangannya hingga bisa selamat kembali di Indonesia.
Diceritakan, ketika perang saudara di Sudan antara militer dengan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) pecah pada Senin, 15 April 2023 lalu, dirinya masih tinggal di asrama kampus University of Africa (UIA).
Selama seminggu, dia harus bertahan hidup di tempat pengungsian di aula kampusnya.
Setiap hari, dia merasakan suasana mencekam rentetan tembakan peluru hingga getaran hamtaman rudal.
“Posisi asrama dan kampus itu di tengah-tengah zona merah perang, jadi di depan, kiri, kanan, belakang itu markasnya tentara,” ungkapnya.
Baru pada hari Sabtu, 22 April 2023, pihak kampus UIA mengumumkan terkait adanya evakuasi mahasiswa.
Esok harinya, pada Minggu, 23 April 2023, seluruh mahasiswa kampus UIA dari berbagai negara mulai dilakukan evakuasi.
Fatimah, 20, menyatakan evakuasi dilakukan oleh relawan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) bersama Kedubes RI saat pagi buta tepat sekitar pukul 03.00 waktu Sudan.
Ada sekitar 800an mahasiswa Indonesia yang belajar di UEA. Menurutnya evakuasi kloter pertama ada sekitar 180an mahasiswa yang dievakuasi dan diutamakan perempuan dan ibu hamil.
“Barang bawaanya dibatasi, bahkan saya cuma bawa baju ganti satu saja, barang-barang berharga lain seperti laptop terpaksa ditinggal disana,” ucapnya.
Menurut Fatimah, 20, proses evakuasi kloter pertama ratusan mahasiswa UIA tersebut berlangsung secara menegangkan.
Dia harus keluar kampus menyebrang melewati perkampungan warga yang masuk zona merah perang Sudan.
Ratusan mahasiswa ini melewati zona merah perang dalam kondisi gelap gulita karena kondisi listrik yang padam.
“Sepi gak ada listrik, dan gak boleh nyalain senter takutnya kelihatan terus malah dicurigai,” imbuhnya.
Setelah sampai di asrama PPI, para mahasiswa juga harus menunggu selama lima jam hingga bis datang.
Bahkan dari 16 bis yang dipesan, hanya 4 bis yang menyanggupi untuk menjemput mahasiswa.
Mahasiswi yang mendapat beasiswa dari Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogjakarta ini mengungkapkan setelah naik bus, rombongan juga harus melawati kepungan tentara yang berjaga di sepanjang jalan.
“Sekitar 5 kali kita diberhentikan tentara, terus tentaranya masuk memeriksa barang bawaan penumpang, bahkan bis terakhir disuruh putar balik oleh tentaranya,” ucapnya.
Berselang 16 jam, rombongan bus evakuasi kloter pertama pun sampai di pelabuhan Port Sudan.
Dari Port Sudan, rombongan mahasiswa menaiki kapal laut selama 20 jam menuju Jeddah.
“Selama perjalanan ke Jeddah, kita dikawal kapal tentara Sudan,” imbuhnya.
Baru pada Selasa, 25 April 2023, rombongan mahasiswa kloter pertama sampai di Jeddah.
Setelah menginap semalam, rombongan mahasiswa diterbangkan dari Jeddah dan baru sampai ke Jakarta pada Sabtu, 29 April 2023.
“Kemudian ahad 30 april, saya dan sampai ke Surabaya, disambut Ibu Gubernur Khofifah. Terus saya langsung pergi ke Jogja menemui kakak baru pulang ke Pasuruan kemarin malam,” pungkasnya. (***/Titin Sukmawati).

















