Menu ✖

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Terkini · 5 Jun 2025

Timwas Haji Ingatkan Kemenag, Jemaah Butuh Perhatian Ekstra Usai Wukuf


					Timwas Haji Ingatkan Kemenag, Jemaah Butuh Perhatian Ekstra Usai Wukuf Perbesar

Reporter: Rendy Fitria R

Editor: Ian Arieshandy

 

Makkah, Kabarpas.com– Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI Selly Andriany Gantina mengingatkan bahwa titik krusial pelaksanaan ibadah haji bukan hanya pada saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), melainkan justru setelah puncak haji usai. Menurutnya, saat itu kondisi jemaah umumnya mulai kelelahan baik secara fisik maupun psikis, terutama bagi jemaah lansia dan penyandang disabilitas.

“Justru setelah puncak haji inilah titik krusial. Para jemaah kelelahan, capek lahir dan batin. Banyak dari mereka mengalami gangguan psikis karena terpisah dari pendampingnya atau pasangan. Ini sangat rentan, apalagi bagi lansia dan disabilitas,” ujar Selly saat mengikuti RDP dan RDPU Timwas Haji DPR RI dengan mitra terkait haji di Alqimma Hall, Makkah, Kamis (4/6/2025).

Politisi Fraksi PDI-Perjuangan yang juga Anggota Komisi VIII DPR RI itu menekankan pentingnya skenario teknis dari Kementerian Agama untuk menangani fase pasca-puncak haji secara terstruktur. Ia mengingatkan bahwa minimnya mitigasi risiko dapat memperburuk kondisi jemaah dan berdampak pada tingginya angka kematian maupun gangguan kesehatan.

“Kemenag perlu menyiapkan langkah teknis bukan hanya saat puncak haji, tetapi justru pascapuncaknya harus diantisipasi seperti apa. Jika tidak, akan berdampak luas bukan hanya pada lansia dan disabilitas, tetapi juga pada jemaah lain yang ikut membantu mereka,” tegasnya.

Selly juga menyoroti pentingnya komunikasi yang jelas antara syarikah, Kementerian Agama, dan seluruh lapisan petugas haji di lapangan. Menurutnya, masih banyak miskomunikasi yang terjadi karena informasi hanya berhenti di tingkat pusat dan tidak tersampaikan merata ke petugas teknis di lapangan seperti ketua kloter, pembimbing ibadah, petugas konsumsi, dan transportasi.

“Kesepakatan dengan syarikah seringkali hanya di level pusat. Tapi petugas lapangan tidak tahu menahu. Ini yang menyebabkan banyak masalah, bahkan ada jemaah yang diturunkan di tengah jalan. Ini sangat mengkhawatirkan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Selly menekankan bahwa keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji bukan hanya diukur dari lancarnya puncak ibadah, tetapi juga dari keselamatan dan kenyamanan jemaah hingga akhir perjalanan haji. Untuk itu, ia meminta pemerintah memastikan sistem komunikasi dan koordinasi lapangan berjalan efektif dan tidak menimbulkan kebingungan di kalangan jemaah. (ren/ian).

Artikel ini telah dibaca 65 kali

Baca Lainnya

LAZISNU se-Jatim Kirim Satu Kontainer Bantuan untuk Penyintas Gempa Flores NTT

4 November 2026 - 18:48

Baznas Kabupaten Probolinggo dan Baznas Jatim Kolaborasi Perbaiki Dua Rutilahu

4 November 2026 - 18:42

Kasus Hamalatul Qur’an, Atalia Minta Prosedur Penggerebekan Tak Abaikan Perlindungan Santriwati

4 November 2026 - 18:24

Yusril Jamin Hak Listyo Sigit Terpenuhi, Proses Penyadapan Berjalan dalam Koridor Hukum

4 November 2026 - 18:22

Kesepakatan Akuisisi Saham 2016 Berujung Sengketa Kebun, Ayah dan Anak Dilaporkan ke Polisi

3 November 2026 - 10:38

Sekjen PBNU Gus Gudfan Apresiasi Ketegasan Kapolri Evaluasi Kapolres Sukoharjo

3 November 2026 - 06:39

Trending di KABAR NUSANTARA