Jember, Kabarpas.com – Program Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa/Kelurahan) kembali digelar untuk kelima kalinya, kali ini menyapa masyarakat di Kecamatan Sumberbaru, Jumat (26/9/2025). Kegiatan ini juga melibatkan para kepala desa serta perwakilan RT/RW dari Kecamatan Umbulsari dan Semboro yang dikemas sederhana melalui sebuah sarasehan di Wisata Agro Rengganis Kebun Gunung Gambir.
Bupati Jember, Muhammad Fawait menyebut program ini sebagai upaya menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat, sekaligus wadah untuk mendengarkan langsung berbagai aspirasi dan keluhan di tingkat bawah.
“Kami tidak hanya ingin menerima laporan dari satu pihak. Tapi juga dari desa, dari RT, dan dari masyarakat langsung. Dengan begitu, data yang ada bisa saling cross-check dengan laporan OPD,” ujarnya.
Salah satu isu yang paling banyak disampaikan oleh sejumlah kepala desa dari tiga kecamatan tersebut adalah soal pembangunan infrastruktur, terutama jalan rusak, penerangan jalan umum, serta kebutuhan plengsengan dan saluran air. Fawait menegaskan bahwa seluruh usulan itu tidak bisa dipenuhi dalam waktu singkat, tetapi akan menjadi bagian dari perencanaan pembangunan jangka menengah daerah.
“Mayoritas usulan memang infrastruktur, dan itu butuh anggaran. Tentu tidak bisa diselesaikan sebulan, dua bulan, bahkan setahun. Tapi semua aspirasi ini akan kami jadikan bank data kebutuhan infrastruktur Jember lima tahun ke depan. Nanti kita prioritaskan mana yang paling urgent,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, bupati juga menekankan pentingnya kesamaan komitmen antara dirinya dengan jajaran pemerintah kabupaten. Ia bahkan menegur salah seorang kepala OPD yang absen tanpa keterangan dalam sarasehan, karena menurutnya kehadiran pejabat sangat penting untuk mendengar langsung suara warga.
“Komitmen bupati harus sama dengan komitmen jajarannya. Kami bekerja, bekerja, dan bekerja. Kalau saya turun langsung, sampai menginap di desa, OPD juga harus punya semangat yang sama,” tegasnya.
Suasana kebersamaan juga menjadi ciri khas Bunga Desaku. Semua pejabat, mulai dari bupati, kepala OPD, camat, hingga para kades, duduk lesehan di Wisata Agro Rengganis, menyantap hidangan sederhana tanpa ada perbedaan.
“Tidak boleh ada batas antara rakyat dengan pemimpinnya. Makanannya sama, duduknya sama, caranya sederhana. Itulah filosofi Bunga Desaku. Kalau tidak dekat, berarti tujuan utama program ini tidak tercapai,” pungkas Fawait.
Program Bunga Desaku di Sumberbaru juga diisi dengan peninjauan pelayanan publik, mulai dari bidang kesehatan, ketahanan pangan melalui budidaya sapi, hingga kegiatan pramuka. Dengan pola jemput bola seperti ini, Pemkab Jember berharap dapat menghadirkan pelayanan yang lebih merata dan responsif sesuai kebutuhan masyarakat. (dan/ian).

















