Jember, Kabarpas.com – Sabtu pagi (11/10/2025) di pendopo Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari suasana tampak berbeda dari biasanya. Di antara deretan kursi yang tertata rapi, puluhan guru ngaji dan modin duduk bersisian dengan wajah sumringah. Hari itu, mereka bukan sedang menghadiri acara pengajian, melainkan menerima insentif dari Pemerintah Kabupaten Jember.
Sebanyak 99 guru ngaji dan modin dijadwalkan hadir dalam kegiatan yang digelar sederhana tersebut. Bagi mereka, insentif senilai Rp1.500.000 per orang bukan hanya soal angka, tapi juga simbol bahwa kerja mereka sebagai pendidik diakui.
Lurah Kranjingan, Ica Ghea Hernawati menyebut kegiatan ini sebagai wujud nyata perhatian pemerintah terhadap para pengabdi agama yang selama ini menjadi pilar moral masyarakat.
“Kami sangat mendukung program ini. Ini bentuk penghargaan dari Bupati Jember kepada guru ngaji dan modin yang setiap hari membina umat dengan ketulusan,” ujarnya saat ditemui usai kegiatan.
Ica menegaskan, Kelurahan Kranjingan akan memastikan seluruh penerima mendapatkan haknya. Bahkan bagi guru ngaji yang berhalangan hadir karena sakit, pihak kelurahan siap mengantarkan langsung ke rumah.
“Kalau hanya karena sakit, kami tidak akan biarkan mereka kehilangan haknya. Ini bentuk tanggung jawab kami untuk memastikan program ini berjalan dengan baik,” tambahnya.
Pemkab Jember, melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) kini menerapkan sistem penyaluran baru yang lebih praktis dan humanis.
Edy Sutrisno, pelaksana dari Bagian Kesra menjelaskan bahwa sistem penyaluran insentif kini dilakukan langsung ke desa dan kelurahan bekerja sama dengan Bank Jatim.
“Tahun-tahun sebelumnya pencairan dilakukan di bank, dan itu sering membuat antrean panjang. Sekarang, kami yang mendatangi mereka. Ini bentuk kepedulian Bupati Jember Gus Fawait, agar guru ngaji dan modin diperlakukan lebih manusiawi,” jelas Edy.
Ia menambahkan, insentif ini tidak hanya diberikan kepada guru ngaji muslim, tetapi juga kepada guru agama non muslim yang mengajarkan kitab suci dan nilai-nilai spiritual di lingkungannya masing-masing.
“Semua yang berperan dalam pendidikan moral dan spiritual mendapat perhatian yang sama,” katanya.
Di antara deretan penerima, Abdul Wahid (40) tampak menunduk haru ketika menerima uang insentif dari petugas. Warga Kramat 3 Blok K-6 Kelurahan Kranjingan itu telah mengajar mengaji sejak tahun 2015. Kini, ia memiliki sekitar 55 santri yang belajar setiap sore di rumahnya.
“Saya bersyukur pencairan sekarang lebih mudah dan cepat. Tidak perlu antre lama seperti dulu,” ujarnya sambil tersenyum.
Abdul Wahid sudah tiga kali menerima insentif dari Pemkab Jember. Ia menilai perhatian pemerintah kali ini berbeda, lebih dekat, dan lebih manusiawi.
“Saya berharap ke depan semua guru ngaji bisa dijangkau program ini. Bantuan ini kami gunakan untuk mendukung kegiatan mengaji dan sedikit membantu kebutuhan keluarga,” tuturnya.
Bagi para guru ngaji dan modin di Kranjingan, insentif yang diterima bukan sekadar bantuan materi, melainkan bentuk pengakuan terhadap peran sosial mereka. Selama ini, mereka bekerja tanpa pamrih, mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an, mengurus jenazah, hingga menikahkan warga, semua dijalankan dengan niat ibadah.
Program insentif yang digagas Bupati Jember Gus Fawait dianggap sebagai cara untuk mengembalikan semangat itu, sekaligus memperkuat posisi mereka dalam pembangunan karakter masyarakat. (dan/ian).

















