Jember, Kabarpas.com – Suasana Balai Desa Gumelar, Kecamatan Balung, Senin (8/12/2025), mendadak hangat ketika Bupati Jember Muhammad Fawait hadir bersama istrinya, Ning Ghyta Eka Puspita, dalam agenda Gus’e Menyapa. Ratusan kader Posyandu yang datang dari berbagai desa terlihat antusias menyambut pasangan pemimpin muda itu.
Gus Fawait dan Ning Ghyta tampil kompak berinteraksi, berbagi cerita, hingga mendengarkan langsung suara para kader. Format acara dibuat cair dan dialogis sehingga kader merasa dekat dan didengarkan.
Salah satu momen menarik terjadi ketika Ibu Siti, kader Posyandu dari Desa Balung Lor yang telah mengabdi selama 15 tahun, ditanya soal tantangan di lapangan.
“Yang paling berat itu imunisasi, Pak. Banyak orang tua takut anaknya rewel atau panas setelah imunisasi,” ujar Ibu Siti.
Menanggapi itu, Gus Fawait menegaskan bahwa perangkat desa dan tenaga kesehatan harus lebih aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat.
“Penjelasan tentang efek imunisasi harus jelas agar warga tidak takut dan tidak kaget. Tugas kita membuat mereka percaya,” kata bupati.
Untuk meningkatkan semangat kader, Gus Fawait mengumumkan sebuah program apresiasi baru yaitu Kader Posyandu Award dengan hadiah umrah untuk berbagai kategori mulai dari kader terbaik/teladan, kepala desa, hingga camat.
“Kenapa saya menemui kader langsung? Karena masa depan generasi Indonesia ditentukan dari gizi dan kesehatan hari ini. Kader adalah ujung tombak penyempurna program pemerintah,” ujarnya.
Kekompakan pasangan ini kembali terlihat ketika Ning Ghyta tiba-tiba memperhatikan adanya kader laki-laki di barisan peserta.
“Siapa namanya, Bapak? Apa yang membuat Bapak terpanggil jadi kader?” tanya Ning Ghyta.
Pria itu adalah Sutaji, kader Posyandu dari Balung Lor yang telah mengabdi selama 20 tahun. “Saya ingin di sisa hidup ini bermanfaat untuk masyarakat,” jawabnya disambut tepuk tangan.
Gus Fawait kemudian menimpali dengan sentuhan religius. “Matinya anak Adam, amal jariyah tetap tercatat. Pak Sutaji ini amal jariyahnya luar biasa,” ucapnya.
Sutaji pun menyampaikan harapan kepada pemerintah terkait perhatian terhadap kesejahteraan kader serta peralatan kesehatan di Posyandu seperti timbangan bayi dan alat lainnya perlu terus ditingkatkan.
Ning Ghyta menegaskan bahwa tugas Posyandu tidak sebatas imunisasi. “Posyandu itu mengawal siklus hidup manusia, bukan hanya soal bayi dan balita saja,” jelasnya.
Dalam momen tersebut, Gus Fawait memberikan sinyal positif mengenai kesejahteraan kader.
“Tidak mungkin di era Gus Fawait honor kader tidak naik. Tapi sabar dulu, saya baru delapan bulan menjabat,” katanya, disambut tepuk tangan kader.
Ia kembali menegaskan bahwa kader Posyandu adalah garda depan menyiapkan generasi emas Indonesia 2045. (dan/ian).

















