Kamis, 16 Oktober 2025 – 21.26 | 613 kali dilihat
Jember, Kabarpas.com – Di ujung timur Pulau Jawa, ada satu wilayah yang sejak lama memegang peran strategis dalam dinamika ekonomi, sosial, dan budaya yaitu Kabupaten Jember. Tak sekadar daerah agraris, Jember kini diakui sebagai pusat pertumbuhan (growth pole) kawasan Pojok Timur Jawa wilayah yang mencakup Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, hingga Jember sendiri.
Sebutan “Java’s Oosthoek” yang lahir pada masa Hindia Belanda, kini kembali menemukan relevansinya. Jember menjadi simpul dari berbagai jejaring wilayah Tapal Kuda, menghubungkan pesisir selatan, lereng gunung, hingga jalur perdagangan timur yang berorientasi pada laut.
1. Jember sebagai *Growth Pole* Modern
Penetapan Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) V Jawa Timur di Jember bukan tanpa alasan. Secara administratif, lembaga ini mengoordinasikan pembangunan lintas kabupaten di kawasan timur Jawa, menegaskan posisi Jember sebagai titik sentral dari aktivitas pemerintahan dan perekonomian kawasan.
Kehadiran Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Jember pun memperkuat fakta tersebut. Lembaga strategis ini tidak hanya mengatur lalu lintas moneter, tetapi juga mengendalikan stabilitas keuangan di seluruh wilayah Tapal Kuda menjadikan Jember sebagai poros ekonomi non-metropolitan yang paling berpengaruh di Jawa Timur.
Dari sisi pertahanan, Jember juga menjadi basis militer yang kuat. Beberapa kesatuan penting seperti Yonif 509, Yonif 515, Brigif 9, dan Secaba Rindam V /Brawijaya berpusat di wilayah ini. Bahkan, Jember digadang sebagai calon lokasi baru Sekolah Polisi Negara (SPN), mempertegas posisinya sebagai simpul keamanan di kawasan timur.
Tak hanya itu, Jember dikenal sebagai pusat pendidikan regional. Kehadiran Universitas Jember (UNEJ), Politeknik Negeri Jember, UIN KHAS, serta puluhan perguruan tinggi swasta dan ribuan pesantren menjadikan kota ini sebagai episentrum pendidikan di ujung timur Jawa sebuah kesinambungan dari tradisi kadewaguruan pada masa klasik Hindu-Buddha.
Sumber daya alamnya pun lengkap. Jember memiliki gunung, sungai, dan garis pantai panjang yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Kombinasi ini menciptakan “trilogi alam” yang menopang ekonomi rakyat dari perkebunan, pertanian, hingga perikanan laut.
2. Peristiwa Sadeng / *Sadeng Affair* : Bab Monumental dari Sejarah Timur Jawa
Jauh sebelum Jember dikenal sebagai pusat ekonomi modern, wilayah ini telah tercatat dalam lintasan sejarah Nusantara. Salah satu peristiwa penting adalah Peristiwa Sadeng /*Sadeng Affair* pada tahun 1331 Masehi, yang disebut dalam kitab Pararaton dan Negarakretagama.
Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, ketika Majapahit menundukkan wilayah Sadeng, daerah pesisir yang dianggap memberontak.
Catatan dalam Negarakretagama pupuh 49 menyebutkan bahwa Sadeng merupakan wilayah penting di tepi laut selatan Jawa, dengan struktur pemerintahan dan keagamaan yang sudah mapan.
Letak geografis Sadeng yang berdekatan dengan pesisir selatan Jember membuat para ahli meyakini bahwa wilayah Puger sekarang adalah bagian dari kawasan Sadeng kuno. Di sinilah, akar sejarah Jember sebagai pusat aktivitas maritim dan perdagangan sudah mulai terbentuk dalam waktu berabad-abad.
3. Kadipaten / Regentschap Puger: Jejak Kekuasaan dari Laut Selatan
Memasuki abad ke-15 hingga ke-19, pesisir selatan Jember mengalami fase baru dengan munculnya Kadipaten Puger (Regentschap Poeger). Wilayah ini menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi lokal sebelum sistem kolonial Belanda mengubah tata administrasi Jawa Timur.
Regentschap Puger berperan sebagai pengendali wilayah pesisir, sekaligus pintu masuk perdagangan hasil bumi dan perikanan dari selatan. Catatan kolonial menyebutkan bahwa pada awal abad ke-19, Puger menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat Eropa yang mulai membuka perkebunan-perkebunan besar di wilayah Jember bagian utara.
Seiring ekspansi perkebunan pada 1850-an, dinamika sosial pun bergeser. Pemukiman di Jember yang semula berupa dusun berkembang menjadi kota kolonial yang padat, sementara Puger berubah menjadi distrik administratif (kawedanan) yang kemudian menjadi bagian dari Afdelling Djember.
Kini, Kecamatan Puger terdiri atas 12 desa, termasuk Puger Kulon dan Puger Wetan, dua wilayah yang masih menyimpan jejak masa lalu dalam bentuk tradisi, toponimi, dan peninggalan sejarah.
4. Dari Kadipaten / Regentschap Puger menjadi Jember Modern
Transformasi Jember dari kadipaten pesisir menjadi kabupaten modern adalah hasil perjalanan panjang peradaban. Potensi alamnya yang luas, jaringan pendidikan yang kuat, serta infrastruktur pemerintahan dan militer yang lengkap menjadikan Jember bukan hanya pusat administratif, tapi juga pusat gravitasi pembangunan bagi wilayah sekitarnya.
Kini, ketika konsep pusat growth pole kembali (disuarakan Bupati Fawait) menjadi strategi pembangunan regional, posisi Jember semakin vital. Ia tidak hanya menjadi penyeimbang antara kawasan utara dan selatan Jawa Timur, tetapi juga menjadi motor yang menggerakkan konektivitas ekonomi, budaya, dan sejarah di Pojok Timur Jawa.
Sebagaimana masa lalu yang melahirkan Sadeng dan Puger sebagai simbol kejayaan pesisir selatan, Jember hari ini di bawah kepemimpinan Bupati Fawait adalah kelanjutan dari sejarah panjang itu. Sebuah kota yang tumbuh dari akar maritim, berkembang dengan ilmu pengetahuan, dan menatap masa depan sebagai poros pertumbuhan dari timur Nusantara. (dan/ian).

















