Oleh : Miftahul Khoiri
KABARPAS.COM – MENJADI seorang laki-laki yang romantis dan bersikap sempurna sangat sulit bagiku, sehingga aku terasa begitu kaku ketika bersama seorang wanita yang aku sukai, dan itu sudah berlangsung aku alami sejak masih di bangku sekolah hingga kuliah. Kekakuan itu sebenarnya karena pikiran idealis yang bersarang dan mengakar dalam jiwa dan raga, yaitu di antara memutuskan untuk menjalin kasih atau menahan diri karena aturan agama.
Pikiran itu juga selalu menghantuiku, karena antara perasaan dan pikiran selalu bertentangan. Di lain sisi aku memiliki keinginan bahwa istriku nanti adalah seorang wanita yang tidak pernah menjalin kasih ketika masih sekolah atau lulus sekolah, sehingga dari keinginan itu aku memiliki komitmen untuk tidak menjalin kasih sebelum menemukan wanita yang benar-benar aku harapkan menjadi pasangan seumur hidup.
Singkat cerita di tahun 2010 aku menjadi seorang mahasiswa aktif yang mengikuti beberapa organisasi dan saat itu aku masih semester 4, aku mengikuti sebuah pelatihan Leadership di sebuah perguruan tinggi lain, dan disana aku bertemu dengan seorang wanita yang memiliki paras rupawan dan agamis. Wanita itu bernama Dini yang merupakan salah satu panitia dalam kegiatan tersebut, tepatnya panitia kesekretariatan yang mengurusi keperluan peserta pada bagian daftar hadir, materi, dan sertifikat.
Pada saat itu, aku mengecek namaku pada daftar hadir ternyata salah, dan aku komplain kepadanya karena kesalahan penulisan nama ini sudah 3 kali terjadi namun tetap salah. Aku bilang jika membuat daftar hadir harus selalu fokus dan jangan melamun terus, karena nantinya juga akan berhubungan dengan nama yang tertera di sertifikat.
Mendapat komplainanku Dini cuman tersenyum dan berjanji akan memperbaikinya. Akan tetapi keesokan harinya ketika aku mau mengisi daftar hadir ternyata namaku tetap salah, namun bukan Dini yang bertugas saat itu, karena Dini masih mengurusi berkas lainnya dan aku hanya menginfokan ke panitia yang bertugas saat itu untuk merevisinya. Dan pada saat itu pula aku meminta nomor HP Dini untuk menginformasikan nama yang benar karena selalu salah penulisannya.
Nah, di waktu acara mau selesai, aku mencoba menghubungi Dini. Ia pun membalasnya pada pukul sepuluh malam, dan dia meminta maaf jika namaku masih salah karena banyak yang harus dia selesaikan, apalagi dia sebagai kordinator kesekretariatan yang mengurusi semua kebutuhan mulai dari sebelum kegiatan hingga akhir kegiatan selesai.
Aku pun memakluminya dan juga meminta maaf kepadanya karena mungkin memang namaku tidak familiar atau mungkin ada huruf yang membingungkan. Selain itu aku tegaskan lagi kepada Dini bahwa namamu adalah Muhammad Riyan Saputra, bukan Muhammad Rian Saputra, lalu Dini memastikan bahwa besok pagi Insya’Allah namaku sudah benar dan jika belum benar maka dia akan memperbaiki lagi, guraunya. Dari situlah aku dan Dini sering komunikasi walaupun bukan masalah kegiatan yang diikuti, sehingga dari sana mulai terjalin kedekatan antara aku dan dia. (Bersambung).
————————————————————-
*Miftahul Khoiri, M.Pd merupakan Dosen Pendidikan Matematika, Fakultas Pedagogi dan Psikologi Universitas PGRI Wiranegara, Dan selain menjadi Dosen Penulis juga aktif di KADIN UMKM Kabupaten Pasuruan dengan Jabatan Sebagai Bidang Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan. Alamat email : miftah.mipa@gmail.com.
___________________________________
*Setiap Minggu Kabarpas.com memuat rubrik khusus “Nyastra”. Bagi Anda yang memiliki karya sastra, baik berupa cerita bersambung (cerbung), cerpen maupun puisi. Bisa dikirim langsung ke email kami: redaksikabarpas@gmail.com.

















