Jember, Kabarpas.com – Antusiasme masyarakat Jember terhadap penerbangan langsung menuju Bali menunjukkan lonjakan tak terduga. Evaluasi pasca penerbangan perdana rute Jember–Denpasar pada 5 Desember 2025 mencatat capaian yang bahkan melampaui respons awal masyarakat terhadap rute Jember–Jakarta.
Hal itu disampaikan Bupati Jember Muhammad Fawait seusai Apel Sholawat Kebangsaan di RTH Balung, Senin (8/12/2025). Menurutnya, tren awal rute baru ini mengindikasikan bahwa kebutuhan mobilitas warga Jember ke Pulau Dewata jauh lebih tinggi dari perkiraan pemerintah maupun maskapai.
“Evaluasi penerbangan perdana ke Bali kemarin bagus, bahkan antusiasnya lebih banyak dibanding yang ke Jakarta,” ujarnya.
Bupati Fawait mengaku terkejut dengan tingginya permintaan. Dalam dialog dengan masyarakat dan para pelaku usaha, ia mendapatkan banyak testimoni mengenai pentingnya akses cepat ke Denpasar.
“Saya kaget, ternyata banyak orang Jember yang ke Bali. Bahkan ada keluarga yang mau ke luar negeri, langsung pakai penerbangan Jember–Bali dan lanjut ke Australia,” ungkapnya.
Beberapa pengusaha yang ditemui Fawait juga menyampaikan apresiasi karena rute baru tersebut mempermudah aktivitas bisnis dan perjalanan lintas negara.
Dengan terkoneksinya Jember–Bali, masyarakat Jember kini memiliki akses langsung ke salah satu pintu gerbang internasional terbesar Indonesia, Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Peluncuran rute perdana pada 5 Desember lalu dioperasikan oleh Wings Air menggunakan pesawat ATR 72-500/600.
Presiden Direktur Lion Air Group, Captain Daniel Putut menegaskan bahwa penerbangan perdana tersebut terisi penuh, menandakan besarnya kebutuhan mobilitas masyarakat Jember.
“Dari Denpasar ke Jember hanya sekitar 50 menit. Cuaca bagus, sambutan warga luar biasa. Ini sinyal bahwa Jember semakin maju,” ujarnya.
Bupati Fawait menilai bahwa tren positif rute Jember–Bali membawa dua dampak awal yang signifikan. Pertama, membangkitkan kebanggaan warga Jember karena daerahnya kini memiliki konektivitas yang setara dengan kota besar lain.
Kedua, meningkatkan kepercayaan investor, khususnya terkait kesiapan infrastruktur dan potensi ekonomi Jember sebagai pusat pertumbuhan kawasan Tapal Kuda.
Menurut bupati, hilangnya keraguan investor merupakan modal penting bagi percepatan pembangunan.
Meski pencapaian dalam tempo delapan bulan tersebut dinilai sangat cepat, Bupati Fawait mengingatkan bahwa Bandara Notohadinegoro masih menghadapi persoalan krusial, yakni panjang runway yang terbatas.
“Hari ini runway kita masih kurang. Kita akan terus berjuang supaya ke depan landasan diperpanjang,” tegasnya.
Jika landasan pacu berhasil diperpanjang, peluang untuk membuka rute baru termasuk penerbangan langsung umroh. Mengingat Jember disebut sebagai penyumbang jamaah umroh terbesar di Jawa Timur.
Gus Fawait menegaskan bahwa Pemkab Jember tidak akan berhenti melakukan lobi ke pemerintah pusat, Angkasa Pura, BUMN termasuk PTPN, hingga Kementerian Perhubungan.
“Jakarta bisa terhubung dalam waktu 6–7 bulan. Bali dalam 8–9 bulan. Ini hasil kerja semua pihak, bukan saya saja,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi peran media dan dukungan masyarakat yang membuat isu konektivitas Jember kembali hidup.
Dengan tingginya minat menuju Bali, pemerintah daerah menargetkan adanya peningkatan jumlah penumpang dalam tiga bulan pertama, dan promosi rute secara berkelanjutan. Kemudian, perluasan kerja sama dengan maskapai untuk potensi penambahan frekuensi, serta percepatan advokasi perpanjangan runway. (dan/ian).

















