Reporter : Rosy Adim
Editor : Titin Sukmawati
Pasuruan, Kabarpas.com – Sungai Wrati yang berada di tiga kecamatan, meliputi Kecamatan Gempol, Beji dan Bangil, saat ini kondisinya cukup memprihatinkan. Betapa tidak, sungai tersebut tertutup oleh eceng gondok dan berbau sangat busuk hingga mengeluarkan ulat yang sangat banyak dari sampah rumah tangga yang dibuang oleh warga.
Jumat (16/11/2018) siang, wartawan dari Kabarpas.com menelusuri sepanjang aliran sungai Wrati yang hampir tidak dapat dilihat airnya itu. Pasalnya, sungai yang mengalir dan membentang di tiga kecamatan itu, terlihat tertutup rumput yang lebat tanpa adanya penanganan khusus berupa dibersihkan.
Tak hanya eceng gondok dan tanaman lain yang mengotori sungai, namun adanya banyak sampah rumah tangga dan limbah industri juga turut membuat sungai menjadi bertambah kotor dan berbau sangat menyengat.
Kotornya sungai Wrati yang terparah sangat nampak terlihat pada Desa Kedungringin, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.
Hal tersebut ditunjukkan dengan sangat banyaknya tanaman eceng gondok dan banyaknya sampah rumah tangga yang terlihat seperti bangkai, hingga mengeluarkan ulat yang sangat banyak.
Belum lagi ditambah dengan adanya limbah industri yang dibuang dari perusahaan tertentu, sehingga menambah kotornya sungai Wrati hingga air yang berada di dalam sungai dapat berganti-ganti warna.
“Kondisi sungai Wrati mulai dari Desa Cangkringmalang-Beji sampai Desa Tambakan-Bangil sangat miris. Seperti yang terlihat di Desa Kedungringin, seluruh badan sungai tertutup dengan tanaman liar (enceng gondok dan rumput) dan diperparah dengan air sungai yang menghitam legam serta berbau anyir,” terang Hendri Sulfianto, warga Kedungringin.
Adanya masalah sungai Wrati tak hanya dikeluhkan warga Desa Kedungringin, namun pemerintah Desa Kedungboto, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, juga turut angkat bicara mengenai sungai yang kotor dan dangkal tersebut.
Pasalnya, sebelum datangnya musim hujan, warga dan Pemerintahan Desa Kedungboto was-was dengan adanya sungai Wrati yang dangkal dan banyak tanaman eceng gondok.
Hal tersebut dikatakan oleh Subandi, selaku Kepala Desa Kedungboto, dirinya sangat menyayangkan adanya hal tersebut. Dikarenakan jika datangnya musim hujan, di Desa Kedungboto sangat rawan terhadap terjadinya bencana banjir.
“Diharapkan untuk pemerintah Kabupaten Pasuruan cepat menanggapi aduan masyarakat dikarenakan musim hujan akan datang, sehingga ketinggian banjir dapat diminimalisir dengan pengerukan sungai atau pembersihan sungai yang membentang di Desa Kedungboto,” terang Subandi, Kepala Desa Kedungboto.
Dengan adanya nasib sungai Wrati yang miris tanpa sentuhan pemerintah Kabupaten Pasuruan, warga hanya bisa berharap agar ada penanganan yang cepat dari pihak terkait. (ros/tin).

















