Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Terkini · 11 Agu 2026

Rebo Wekasan dan 320 Ribu Bencana; Benarkah Yasin Menjadi Penawarnya


Rebo Wekasan dan 320 Ribu Bencana; Benarkah Yasin Menjadi Penawarnya Perbesar

Oleh: Gus Dr. A. M. Najich S., M.H., M.Pd.

 

KABARPAS.COM – SETIAP memasuki akhir bulan Safar, sebagian masyarakat Muslim di Indonesia kembali mengenal satu tradisi yang cukup populer: Rebo Wekasan.

Rebo Wekasan adalah sebutan untuk Rabu terakhir pada bulan Safar. Di sejumlah daerah, hari tersebut diisi dengan doa bersama, membaca Al-Qur’an, Yasinan, bersedekah, selamatan, hingga berbagai kegiatan yang dimaksudkan sebagai ikhtiar memohon keselamatan.

Namun, ada satu cerita yang membuat Rebo Wekasan menjadi menarik sekaligus mengundang pertanyaan.

Konon, pada Rabu terakhir bulan Safar akan turun 320.000 macam bala atau musibah ke bumi. Karena itu, sebagian masyarakat melakukan berbagai amalan, termasuk membaca Surat Yasin, sebagai ikhtiar agar terhindar dari bala tersebut.

Lalu muncul pertanyaan sederhana:

Benarkah 320.000 bala turun pada Rebo Wekasan? Dan benarkah Surat Yasin secara khusus menjadi penawarnya?

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan tradisi. Justru sebaliknya, pertanyaan ini penting agar tradisi keagamaan kita tidak hanya diwarisi, tetapi juga dipahami dengan baik.

Dari Mana Angka 320.000 Bala?

Angka 320.000 bala yang sering disebut dalam pembahasan Rebo Wekasan bukanlah angka yang berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW yang sahih.

 

Keterangan tersebut antara lain ditemukan dalam literatur keislaman yang membahas keutamaan waktu dan bulan, salah satunya Kanz al-Najāḥ wa al-Surūr karya KH. Abdul Hamid Quds.

 

Dalam kajian mengenai pemikiran KH. Abdul Hamid, keterangan tentang Rabu terakhir bulan Safar dan berbagai bala tersebut menjadi salah satu dasar yang kemudian berpengaruh terhadap berkembangnya tradisi Rebo Wekasan di tengah masyarakat (Farida, 2019).

 

Tetapi ada hal yang harus kita pahami.

 

Pendapat ulama tidak selalu berarti hadis Nabi.

 

Seorang ulama bisa mempunyai pandangan berdasarkan pengalaman spiritual, ilham, kasyaf, atau sumber tertentu yang menurutnya dapat dijadikan pegangan. Pandangan tersebut dapat menjadi bagian dari khazanah keislaman, tetapi tidak tepat jika kemudian dikatakan sebagai sabda Rasulullah SAW tanpa dasar hadis yang jelas.

 

Karena itu, menyebut “320.000 bala pasti turun pada Rebo Wekasan berdasarkan hadis Nabi” adalah pernyataan yang tidak tepat.

 

Ini penting diketahui agar masyarakat tidak mencampuradukkan antara hadis, pendapat ulama, dan tradisi masyarakat.

 

Apakah Bulan Safar Memang Bulan Sial?

 

Islam justru mengajarkan agar kita tidak menganggap waktu tertentu sebagai sumber kesialan.

 

Rasulullah SAW bersabda:

 

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

 

“Tidak ada penyakit menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada hamah, dan tidak ada Safar.”

 

(HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Hadis tersebut menjadi salah satu dasar bahwa Islam tidak mengajarkan keyakinan bahwa bulan Safar adalah bulan sial.

 

Dengan demikian, yang perlu diperbaiki bukanlah keberadaan bulan Safar, tetapi cara kita memandangnya.

 

Safar tetaplah bulan sebagaimana bulan-bulan lainnya. Tidak ada hari yang dengan sendirinya membawa kesialan. Tidak ada tanggal yang dengan sendirinya mendatangkan musibah.

 

Yang menentukan manfaat dan mudarat adalah Allah SWT.

 

Ujian juga dapat datang kapan saja. Karena itu, seorang Muslim tidak perlu takut kepada bulan tertentu.

 

Yang perlu dilakukan adalah selalu memperkuat iman, berdoa, berikhtiar dan bertawakal kepada Allah.

 

Mengapa Masyarakat Membaca Surat Yasin?

 

Lalu mengapa Surat Yasin begitu dekat dengan tradisi Rebo Wekasan?

 

Penelitian Laelasari mengenai tradisi membaca Surat Yasin tiga kali pada ritual Rebo Wekasan di Kampung Sinagar, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, menemukan bahwa masyarakat memahami pembacaan Yasin sebagai bagian dari ikhtiar untuk memohon perlindungan dari marabahaya.

 

Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan bahwa masyarakat merasakan ketenangan hati dan jiwa setelah membaca Surat Yasin (Laelasari, 2020).

 

Hal ini sebenarnya mudah dipahami.

 

Membaca Al-Qur’an dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang duduk, membaca ayat-ayat Allah, berdoa dan menyerahkan segala persoalan kepada-Nya, hati dapat menjadi lebih tenang.

 

Allah SWT berfirman:

 

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

 

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

 

(QS. al-Ra‘d [13]: 28).

 

Allah juga berfirman:

 

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

 

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

 

(QS. al-Isra’ [17]: 82).

 

Artinya, Al-Qur’an memang memiliki kedudukan sebagai petunjuk, rahmat dan penyembuh bagi orang beriman.

 

Tetapi sekali lagi harus dibedakan.

 

Al-Qur’an sebagai penyembuh memiliki dasar yang kuat. Namun, menjadikan Surat Yasin secara khusus sebagai penawar 320.000 bala pada Rebo Wekasan membutuhkan dalil khusus.

 

Di sinilah pentingnya ilmu.

 

Yasin Boleh Dibaca, tetapi Jangan Dijadikan Mantra

 

Membaca Yasin tentu bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dilarang.

 

Membaca Al-Qur’an adalah ibadah.

 

Berdoa juga ibadah.

 

Bersedekah adalah amal saleh.

 

Bersilaturahmi adalah kebaikan.

 

Memperbanyak dzikir juga merupakan amal yang baik.

 

Semua itu dapat dilakukan pada Rebo Wekasan maupun pada hari-hari lainnya.

 

Yang perlu dihindari adalah keyakinan bahwa Yasin tiga kali pada Rabu terakhir Safar secara otomatis menjadi “jimat” untuk menghapus 320.000 bala.

 

Sebab Al-Qur’an bukan mantra.

 

Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan.

 

Membaca Yasin seharusnya tidak hanya membuat seseorang merasa aman dari musibah, tetapi juga membuatnya semakin dekat kepada Allah, semakin baik akhlaknya, semakin peduli kepada sesama, dan semakin sadar bahwa kehidupan ini berada dalam kehendak-Nya.

 

Tradisi Tidak Harus Dibuang

 

Di sinilah kita perlu bersikap bijak.

 

Tidak semua tradisi harus dibuang hanya karena tidak ditemukan dalam bentuk yang sama pada zaman Nabi.

 

Banyak tradisi masyarakat Muslim Nusantara merupakan hasil perjumpaan antara ajaran Islam dan budaya lokal. Rebo Wekasan pun berkembang dengan bentuk yang berbeda-beda di berbagai daerah.

 

Ada yang mengisinya dengan Yasinan.

 

Ada yang mengadakan pengajian.

 

Ada yang melakukan doa bersama.

 

Ada yang bersedekah.

 

Ada pula yang mengadakan selamatan.

 

Penelitian tentang Rebo Wekasan menunjukkan bahwa tradisi tersebut berkembang sebagai bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat dan mengalami proses panjang dalam perjumpaan antara budaya dan ajaran Islam (Nurjannah, 2017; Rosyid & Kushidayati, 2022).

 

Karena itu, kita tidak harus memilih antara “tradisi atau Islam”.

 

Yang lebih penting adalah memilahnya.

 

Mana yang merupakan budaya.

 

Mana yang merupakan ibadah.

 

Mana yang memiliki dasar syariat.

 

Dan mana yang hanya merupakan keyakinan masyarakat yang perlu diluruskan.

 

Dengan cara seperti ini, tradisi tetap dapat dihargai tanpa harus mengubahnya menjadi kewajiban agama.

 

Jangan Sampai Rebo Wekasan Justru Membuat Takut

 

Ada satu hal yang perlu mendapat perhatian.

 

Tradisi keagamaan seharusnya membawa manusia semakin dekat kepada Allah, bukan membuat manusia hidup dalam ketakutan.

 

Jika seseorang tidak melakukan ritual Rebo Wekasan kemudian merasa pasti akan mendapatkan musibah, maka keyakinan seperti ini perlu diluruskan.

 

Sebab musibah tidak hanya terjadi pada hari Rabu terakhir Safar.

 

Kecelakaan bisa terjadi kapan saja.

 

Sakit bisa datang kapan saja.

 

Bencana bisa terjadi kapan saja.

 

Begitu pula pertolongan Allah dapat datang kapan saja.

 

Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya menggantungkan keselamatan pada hari, tanggal atau bulan tertentu.

 

Keselamatan bukan karena kalender. Keselamatan datang karena kehendak Allah.

 

Rebo Wekasan dapat dijadikan momentum untuk bermuhasabah. Kita dapat membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, bersedekah, memperkuat silaturahmi dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.

 

Tetapi semua itu dilakukan bukan karena kita takut kepada Safar.

 

Kita melakukannya karena kita memang membutuhkan Allah setiap saat.

 

Dari Tolak Bala Menuju Mendekat kepada Allah

 

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:

 

“Berapa jumlah bala yang turun pada Rebo Wekasan?”

 

Bukan pula:

 

“Apakah Yasin dapat menghilangkan semua bala?”

 

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

 

“Apa yang berubah dalam diri kita setelah membaca Al-Qur’an dan berdoa?”

 

Jika setelah membaca Yasin kita menjadi lebih tenang, lebih rajin beribadah, lebih mudah memaafkan, lebih peduli kepada tetangga, lebih ringan bersedekah, dan lebih mampu mengendalikan diri, maka di situlah kita menemukan makna yang jauh lebih besar.

 

Rebo Wekasan tidak perlu menjadi hari yang menakutkan.

 

Ia dapat menjadi hari untuk mengingat Allah.

 

Ia dapat menjadi momentum untuk memperbanyak doa.

 

Ia dapat menjadi kesempatan untuk bersedekah.

 

Ia dapat menjadi waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan masyarakat.

 

Dan ia dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak pernah lepas dari kebutuhan kepada pertolongan Allah.

 

Karena itu, angka 320.000 tidak perlu membuat kita takut kepada bulan Safar.

 

Surat Yasin juga tidak perlu diposisikan sebagai mantra untuk menghadapi angka tersebut.

 

Yang harus menjadi pusat keyakinan kita tetap satu:

 

Allah SWT.

 

Tradisi boleh hidup.

 

Budaya boleh berkembang.

 

Yasin boleh dibaca.

 

Doa boleh dipanjatkan.

 

Sedekah boleh dilakukan.

 

Tetapi keyakinan harus tetap lurus.

 

Bukan takut kepada Safar.

Bukan takut kepada Rebo Wekasan. Bukan pula bergantung kepada bacaan tertentu.

Tetapi bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT.

Sebab manusia tidak hanya membutuhkan perlindungan Allah pada Rabu terakhir bulan Safar.

Kita membutuhkan-Nya setiap hari, setiap waktu, dan dalam setiap keadaan. (***).

Artikel ini telah dibaca 2 kali

Baca Lainnya

Kembali ke Podium, MPM Honda Jatim Raih Juara 1 Community Sport AHSRIC 2026

11 Agustus 2026 - 23:03

Kabar Gembira! Gadai Mas Nusantara Resmi Buka Cabang Baru di Pasuruan, Tawarkan Proses Cepat dan Taksiran Tinggi

11 Agustus 2026 - 13:19

Dari Pemula hingga Juara Nasional, Daya Fawziya Buktikan Pentingnya Edukasi Safety Riding

11 Agustus 2026 - 08:08

Buktikan Kencangnya CBR series, Pebalap Astra Honda Raih Kemenangan di Mandalika

11 Agustus 2026 - 07:33

Sah Jadi Pimpinan BAZNAS Jatim 2026–2031, Pengasuh Pesantren Asy-Syarif Pasuruan Siap Perkuat Pengelolaan Zakat Profesional

11 Agustus 2026 - 05:53

RMI PBNU Gelar Festival Film Santri Nasional 2026 Sambut Muktamar ke-35 NU

10 Agustus 2026 - 21:43

Trending di KABAR NUSANTARA