Pasuruan, Kabarpas.com – Di bawah kubah Aula Pancasila Universitas Yudharta, lantunan ayat suci menggema dengan syahdu pada Minggu (14/06/2026). Hari itu, ruang tersebut tidak sekadar menjadi saksi sebuah kompetisi, melainkan sebuah ruang perayaan keagungan literasi langit. Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Jam’iyyatul Qurro wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Komisariat Yudharta Pondok Pesantren Ngalah menghadirkan wajah baru syiar Islam melalui musabaqah Al-Qur’an tingkat nasional yang lebih masif dan komprehensif.
Langkah ini bukanlah kebetulan, melainkan manifestasi dari sebuah kesadaran bahwa syiar Al-Qur’an di era modern menuntut adaptasi dan eskalasi. Pelaksanaan lomba tahun ini mencatat sejarah baru dengan perluasan kategori. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kompetisi hanya mempertandingkan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), kini panggung diperluas dengan hadirnya Musabaqah Syahril Qur’an (MSQ) dan Musabaqah Khattil Qur’an (MKQ). Transformasi ini diinstruksikan langsung oleh Rektor Universitas Yudharta Pasuruan, Assoc. Prof. Dr. H. Kholid Murtadlo, S.E., M.E., sebagai mandat strategis untuk memperluas jangkauan syiar agama Islam.
“Berangkat dari dawuhnya beliau, yang mengatakan bahwa kita para pegiat-pegiat Al-Qur’an itu harus senantiasa syiar, memperbanyak syiar termasuk mengadakan lomba itu juga harus ada peningkatan dan perkembangan dari tahun ke tahun itu harus ada,” ungkap Rozi, salah satu panitia penyelenggara.
Di balik gemerlap dan khidmatnya babak final yang diselenggarakan secara luring (offline) tersebut, tersimpan narasi perjuangan panjang para panitia dan peserta. Panitia penyelenggara hanya memiliki waktu persiapan sekitar satu bulan, sebuah tenggat yang teramat singkat untuk perhelatan berskala nasional. Namun, dedikasi kolektif mengalahkan keterbatasan waktu. Kekompakan dan kerja keras mereka berhasil merangkul para talenta muda dari berbagai daerah di Indonesia, membuktikan bahwa daya tarik Al-Qur’an selalu mampu menembus batas geografis.
Perjalanan para finalis pun tak kalah inspiratif. Sebelum berdiri di Aula Pancasila, mereka harus melewati fase penyisihan ketat yang digelar secara daring (online). Antusiasme dan kesungguhan yang terpancar dari setiap penampilan finalis menunjukkan bahwa bagi generasi muda ini, menjaga tradisi Al-Qur’an bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan spiritual untuk mengembangkan potensi diri secara maksimal.
Perhelatan ini membawa dampak sosial dan institusional yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Lebih dari sekadar mencari pemenang, musabaqah ini berfungsi sebagai kawah candradimuka bagi generasi Qur’ani. Keberhasilan menyelenggarakan empat cabang lomba tingkat nasional sekaligus memperkuat citra positif dan menjaga marwah Pondok Pesantren Ngalah serta Universitas Yudharta Pasuruan sebagai pusat keunggulan pendidikan Islam.
Makna terdalam dari perhelatan ini ditegaskan oleh Dr. H. Kholid Murtadlo saat membuka babak final. Ia mengingatkan bahwa seluruh lelah dan keringat yang menetes dalam kompetisi ini adalah bentuk riyadhoh (latihan) spiritual.
“Ini semua sebagai latihan menjadi Ahlul Jannah, latihan menjadi orang yang dicintai oleh Allah SWT, dicintai oleh Rasulillah Muhammad SAW, dan pada akhirnya kita menjadi Ahlul Qur’an dan masuk ke surganya Allah dengan pertolongan Al-Qur’an dan Rasulillah,” tutur Sang Rektor. Beliau menegaskan kembali kepada para santri dan peserta bahwa peningkatan skala acara ini semata-mata dilakukan dengan niat murni untuk mengagungkan syiar agama Allah SWT.
Pada akhirnya, piala dan piagam mungkin akan usang dimakan waktu. Namun, gema ayat suci yang dilantunkan, dihafalkan, disyarahkan, dan ditulis dengan indah di Universitas Yudharta pada pertengahan Juni itu, akan terus hidup sebagai tonggak pelestarian literasi Islam. Sebuah pembuktian bahwa syiar Al-Qur’an akan selalu menemukan jalannya untuk terus relevan, berkembang, dan menginspirasi dari masa ke masa. (fiy/ian).

















