Jember, Kabarpas.com – Di tengah riuh lautan massa Forum Masyarakat Jember Maju (FMJM) yang memenuhi halaman Gedung DPRD Jember, Sabtu (20/6/2026), suara-suara kecil dari masyarakat bawah terdengar menyampaikan cerita tentang perubahan yang mereka rasakan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bukan sekadar seruan politik, sejumlah peserta aksi membawa kisah pribadi tentang bagaimana program tersebut menyentuh kehidupan sehari-hari mereka.
Seorang guru honorer perempuan yang ikut menyampaikan aspirasi di hadapan massa mengaku tergerak untuk berbicara karena melihat langsung kondisi para siswanya di sekolah.
Ia mengatakan, masih ada banyak siswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Baginya, MBG menjadi salah satu program yang memberikan dampak nyata bagi mereka.
“Manfaat MBG sangat besar untuk siswa-siswi kami. Saya terharu melihat anak-anak yang ekonominya masih rendah, setiap hari bisa makan lauk bergizi seperti ikan, ayam, dan buah secara gratis,” ujarnya.
Menurutnya, apabila dalam pelaksanaan masih ditemukan kekurangan, hal tersebut seharusnya menjadi bahan perbaikan bersama, bukan alasan untuk menghentikan program.
“Kalau ada dapur yang belum layak, mari kita benahi bersama. Bukan ditutup programnya,” katanya di hadapan massa.
Suara lain datang dari seorang ibu rumah tangga asal Sukowono. Ia menyampaikan bahwa keberadaan MBG tidak hanya berkaitan dengan makanan bagi anak-anak, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi keluarga. Bahkan, disebutnya para ibu tidak lagi bingung membayar angsuran bank setiap minggunya.
Ia mengaku, program tersebut membantu meringankan beban rumah tangga, terutama bagi keluarga yang selama ini harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dengan adanya MBG, ekonomi kami sebagai ibu rumah tangga ikut terangkat. Anak-anak yang mondok, yang kuliah, kebutuhan mereka tetap bisa berjalan,” ungkapnya.
Sementara itu, seorang supplier telur yang mewakili massa dari Kecamatan Pakusari melihat MBG sebagai program yang membuka peluang bagi masyarakat kecil.
Ia menceritakan perjalanan ekonominya yang ikut berubah sejak terlibat dalam rantai pasok program tersebut.
“Dulu saya hanya penjual kelontong, sekarang bisa menjadi supplier telur. MBG mengangkat derajat para supplier, petani, dan pelaku usaha kecil,” tuturnya.
Menurutnya, dampak program tersebut terasa hingga ke sektor pertanian dan usaha lokal. Permintaan bahan pangan yang meningkat membuat perputaran ekonomi bergerak hingga tingkat desa.
“Bawang menjadi lebih laris, petani ikut merasakan manfaatnya. Program ini bukan hanya soal makanan, tapi juga tentang roda ekonomi masyarakat,” katanya.
Ketiga suara itu menjadi bagian dari aspirasi FMJM yang meminta pemerintah tetap melanjutkan program strategis nasional, khususnya MBG, dengan catatan adanya evaluasi dan perbaikan tata kelola.
Bagi mereka, MBG bukan sekadar kebijakan dari pemerintah pusat, melainkan program yang mereka rasakan langsung dalam keseharian. Dari meja makan anak sekolah, dapur keluarga, hingga aktivitas ekonomi masyarakat kecil. (dan/ian).

















