Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Terkini · 21 Jun 2026

Antara Toga dan Dunia Kerja


Antara Toga dan Dunia Kerja Perbesar

Oleh: Gus Dr. A. M. Najich S., M.H., M.Pd.

 

KABARPAS.COM – SETIAP tahun ribuan pelajar dan mahasiswa mengenakan toga sebagai simbol keberhasilan menyelesaikan pendidikan. Wisuda menjadi momentum yang sarat makna karena menandai berakhirnya satu fase pendidikan dan dimulainya fase kehidupan yang baru. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wisuda tidak hanya memiliki nilai seremonial, tetapi juga mengandung makna sosial, psikologis, dan simbolik sebagai bentuk pengakuan atas pencapaian akademik seseorang (Emik, 2022).

Namun demikian, setelah toga dikenakan, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah kelulusan benar-benar menjadi jembatan menuju dunia kerja?

Laporan Computing Curricula 2020 Task Force mengungkapkan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Banyak lulusan memiliki pengetahuan akademik yang memadai, tetapi belum sepenuhnya memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja modern, sehingga proses memperoleh pekerjaan pertama sering kali menjadi tantangan yang tidak mudah (Computing Curricula 2020 Task Force, 2020).

Penelitian mengenai pengalaman lulusan baru juga menunjukkan bahwa perusahaan teknologi masih cenderung lebih memilih tenaga kerja yang siap pakai dibandingkan berinvestasi dalam pengembangan lulusan baru. Akibatnya, banyak lulusan harus beradaptasi secara mandiri melalui pembelajaran di tempat kerja (learning on the job) untuk memenuhi tuntutan profesi yang mereka jalani (Matthews, 2021).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari angka kelulusan atau kemeriahan prosesi wisuda. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana pendidikan mampu mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupan nyata setelah kelulusan. Dalam konteks ini, penelitian tentang mata kuliah capstone dan program magang menunjukkan bahwa pengalaman praktik, kemampuan bekerja dalam tim, manajemen waktu, komunikasi profesional, serta kemampuan memecahkan masalah merupakan kompetensi yang paling dibutuhkan ketika lulusan memasuki dunia kerja (Bastarrica et al., 2017; Matthews, 2021).

Perspektif yang sama juga dapat ditemukan dalam pendidikan pesantren. Penelitian mengenai strategi peningkatan mutu kelulusan di Ma’had Pesantren Musthafawiyah Purba Baru menunjukkan bahwa kualitas lulusan tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga oleh penguatan karakter, pendidikan spiritual, kompetensi guru, pemanfaatan teknologi, serta kemitraan dengan orang tua (Ritajib, 2025).

Temuan tersebut menegaskan bahwa dunia kerja saat ini membutuhkan lebih dari sekadar ijazah. Dunia profesional membutuhkan individu yang memiliki kemampuan beradaptasi, tanggung jawab, komunikasi yang baik, serta kemauan belajar secara berkelanjutan. Bahkan dalam laporan mengenai kekurangan tenaga kerja digital di Selandia Baru disebutkan bahwa perusahaan mengalami kesulitan menemukan calon pekerja yang memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan negosiasi yang baik (Digital Skills Aotearoa Report, 2022).

Di sisi lain, perdebatan mengenai wisuda sekolah yang berkembang di masyarakat menunjukkan bahwa perhatian publik sering kali lebih besar terhadap prosesi kelulusan daripada kualitas lulusan itu sendiri. Sebagian masyarakat memandang wisuda sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan peserta didik. Namun sebagian lainnya menilai bahwa biaya wisuda yang berlebihan dapat menimbulkan beban ekonomi dan ketimpangan sosial di antara peserta didik (Tanggraeni & Sitokdana, 2025).

Terlepas dari perdebatan tersebut, esensi pendidikan sesungguhnya tidak terletak pada megahnya seremoni kelulusan, tetapi pada kesiapan lulusan menghadapi kehidupan setelahnya. Wisuda hanyalah simbol keberhasilan menyelesaikan pendidikan formal, sedangkan tantangan sesungguhnya dimulai ketika seseorang harus membuktikan kemampuan, integritas, dan kontribusinya di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi perlu menggeser orientasi pendidikan dari sekadar menghasilkan lulusan menjadi menghasilkan sumber daya manusia yang siap menghadapi perubahan zaman. Penguatan karakter, literasi digital, pengalaman praktik, kemampuan berkolaborasi, dan pembelajaran sepanjang hayat harus menjadi bagian integral dari proses pendidikan (Ramadhan, Kusumawati, & Aulia, 2024).

Pada akhirnya, dunia kerja tidak bertanya seberapa megah acara wisuda seseorang. Dunia kerja akan menilai kemampuan, etos kerja, integritas, serta kontribusi nyata yang mampu diberikan. Karena itu, toga bukanlah garis akhir perjuangan, melainkan titik awal memasuki medan pengabdian yang sesungguhnya.

Maka pertanyaan yang perlu direnungkan bukan lagi “sudahkah kita wisuda?”, melainkan “sudahkah kita siap menghadapi dunia setelah wisuda?”

(Antara toga dan dunia kerja, terdapat sebuah jembatan bernama kompetensi. Dan kompetensi itulah yang akan menentukan masa depan seorang lulusan.).

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Baca Lainnya

Piala Soeratin U-13 dan U-15 Trenggalek Batal Digelar di Stadion Menak Sopal, Simak Alasannya

21 Juni 2026 - 12:54

Ribuan Warga Padati Saksikan Road to Kilau Raya MNCTV, Semarakkan HUT ke-108 Kota Mojokerto

21 Juni 2026 - 08:05

Suara Kecil dari Aksi FMJM Jember: Guru, Emak-emak, hingga Supplier Telur Ceritakan Harapan dari MBG 

20 Juni 2026 - 13:49

Long March 10 Ribu Warga Jember Dukung MBG, Minta Pemerintah Perbaiki Tata Kelola Bukan Hentikan Program 

20 Juni 2026 - 13:47

HUT ke-108 Kota Mojokerto Berlangsung Meriah, SDM Modal Utama Jadi Fokus Pembangunan

20 Juni 2026 - 12:55

Bukan Demo Biasa, Ahmad Halim Mendadak Jadi Rebutan Tanda Tangan Emak-emak di Gedung DPRD Jember 

20 Juni 2026 - 12:19

Trending di KABAR NUSANTARA