Oleh: Abdurrohman Wahid
KABARPAS.COM – ORGANISASI besar tidak hanya ditentukan oleh siapa pemimpinnya, tetapi juga oleh seberapa jauh ia berani memikirkan masa depan peradaban.”
Kalimat tersebut terasa relevan ketika Nahdlatul Ulama memasuki momentum paling penting dalam perjalanan sejarahnya. Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang, bukan sekadar forum lima tahunan untuk memilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Lebih dari itu, ia merupakan persimpangan sejarah yang akan menentukan arah organisasi Islam terbesar di dunia dalam memasuki abad keduanya.
Di tengah dinamika kontestasi yang lazim mengiringi setiap Muktamar, muncul satu gagasan yang menarik untuk dicermati. Salah satu kandidat Ketum PBNU mendatang, *Gus Hery Haryanto Azumi* tidak hanya menawarkan agenda organisasi, melainkan sebuah visi jangka panjang yang ia sebut *Islamic Pole* — sebuah ikhtiar menjadikan Indonesia, melalui Nahdlatul Ulama, sebagai salah satu pusat baru peradaban Islam dunia pada tahun 2126.
Terlepas dari siapa yang kelak dipercaya memimpin PBNU, gagasan ini layak didiskusikan karena menggeser fokus Muktamar dari sekadar pergantian kepemimpinan menuju pembicaraan yang lebih fundamental: ke mana NU hendak membawa perjalanannya dalam satu abad mendatang?
*Dari Organisasi Menuju Peradaban*
Selama hampir satu abad, Nahdlatul Ulama telah membuktikan dirinya sebagai organisasi keagamaan dengan daya tahan luar biasa. NU tidak hanya menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan, pembangunan demokrasi, penguatan masyarakat sipil, hingga menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi NU jauh lebih kompleks dibandingkan masa para pendirinya. Revolusi kecerdasan buatan, disrupsi digital, perubahan geopolitik global, krisis pangan, perubahan iklim, ekonomi hijau, hingga perebutan pengaruh antarnegara telah mengubah wajah dunia secara fundamental.
Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat mendasar. Apakah NU cukup hanya menjadi organisasi Islam terbesar di dunia? Ataukah sudah saatnya NU menjadi salah satu aktor utama dalam membentuk arah baru peradaban Islam global?
Pertanyaan inilah yang tampaknya menjadi titik tolak lahirnya konsep *Islamic Pole*. Sejarah selalu melahirkan pusat peradaban baru. Sejarah Islam mengajarkan bahwa pusat peradaban tidak pernah bersifat permanen.
Madinah menjadi pusat pertama ketika Rasulullah SAW membangun masyarakat Islam. Setelah itu bergeser ke Damaskus pada masa Umayyah, kemudian ke Baghdad ketika Dinasti Abbasiyah menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kejayaan. Ketika Baghdad runtuh, Cordoba di Andalusia tampil sebagai mercusuar ilmu pengetahuan yang menerangi Eropa. Selanjutnya Istanbul mengambil peran penting sebagai pusat politik dunia Islam selama berabad-abad.
Sejarawan Islam Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menunjukkan bahwa pergeseran pusat-pusat peradaban Islam selalu mengikuti dinamika ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Tidak ada satu kawasan pun yang secara abadi menjadi pusat dunia Islam. Kepemimpinan peradaban selalu berpindah kepada masyarakat yang mampu membangun tradisi keilmuan, inovasi, dan institusi yang kuat.
Dalam perspektif tersebut, gagasan bahwa Indonesia dapat menjadi salah satu pusat baru peradaban Islam bukanlah sesuatu yang utopis. Ia justru memiliki landasan historis yang kuat.
Indonesia memiliki modal besar. Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, tetapi kekuatan Indonesia tidak berhenti pada angka demografis.
Indonesia memiliki ribuan pesantren, ratusan perguruan tinggi Islam, jutaan santri, organisasi kemasyarakatan yang matang, demokrasi yang relatif stabil, serta pengalaman panjang dalam mengelola keberagaman.
Almarhum Prof. Azyumardi Azra berulang kali menjelaskan bahwa ulama Nusantara sejak abad ke-17 telah menjadi bagian penting dari jaringan intelektual dunia Islam. Artinya, Indonesia bukanlah “pendatang baru” dalam sejarah Islam global, melainkan memiliki akar intelektual yang panjang.
Nahdlatul Ulama berada tepat di jantung modal sosial tersebut. Dengan puluhan ribu pesantren, jutaan warga, jaringan pendidikan, rumah sakit, lembaga zakat, koperasi, diaspora internasional, hingga jaringan PCINU di berbagai negara, NU memiliki kapasitas kelembagaan yang mungkin belum dimiliki organisasi Islam lain di dunia.
Namun modal besar tidak otomatis melahirkan peradaban. Ia memerlukan arah dan memerlukan visi.
*Islamic Pole: Sebuah Agenda Peradaban*
Di sinilah letak menariknya konsep Islamic Pole. Gagasan ini tidak berbicara mengenai supremasi agama ataupun ambisi politik global. Yang ditawarkan adalah pembangunan ekosistem peradaban.
*Gus Hery* membaginya ke dalam lima pilar utama. Pertama, Knowledge Pole, yaitu transformasi pesantren dan perguruan tinggi NU menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi kelas dunia. Kedua, Economic Pole, yakni membangun kemandirian ekonomi umat melalui koperasi modern, industri halal, wakaf produktif, investasi sosial, dan kewirausahaan berbasis pesantren.
Ketiga, Technology Pole, dengan menempatkan NU sebagai bagian dari pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), bioteknologi, ekonomi digital, dan teknologi masa depan yang tetap berpijak pada etika Islam. Keempat, Peace Pole, memperkuat posisi NU sebagai pelaku diplomasi perdamaian, dialog lintas agama, serta penyelesaian konflik internasional melalui jalur masyarakat sipil (second-track diplomacy).
Kelima, Civilization Pole, yaitu menjadikan Nahdlatul Ulama sebagai salah satu pusat lahirnya pemikiran Islam kontemporer yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa tercerabut dari tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Kelima pilar tersebut menunjukkan bahwa Islamic Pole bukan proyek satu kepengurusan. Ia adalah rancangan pembangunan peradaban.
*Melampaui Politik Lima Tahunan*
Hal yang paling menarik dari konsep ini justru terletak pada orientasi waktunya. Selama ini organisasi sering terjebak dalam siklus lima tahunan. Setiap pergantian kepemimpinan melahirkan prioritas baru, sementara program lama kerap berhenti di tengah jalan.
Islamic Pole menawarkan perspektif berbeda. Ia dirancang sebagai *Visi Peradaban 2126*. Artinya, setiap kepengurusan PBNU hanyalah mata rantai yang meneruskan agenda besar organisasi. Kepemimpinan boleh berganti, tetapi arah pembangunan peradaban tetap dijaga secara konsisten.
Pendekatan semacam ini mengingatkan pada pembangunan jangka panjang yang dilakukan berbagai bangsa besar. Jepang membangun modernisasinya lintas generasi. Korea Selatan menyusun peta jalan industrialisasi hingga puluhan tahun. Singapura merancang pembangunan sumber daya manusianya melampaui pergantian pemerintahan. Mengapa NU tidak melakukan hal serupa?
Tentu saja konsep Islamic Pole masih memerlukan penyempurnaan. Ia membutuhkan peta jalan yang lebih operasional, indikator keberhasilan yang terukur, mekanisme pembiayaan, serta komitmen kelembagaan yang melampaui figur siapa pun. Namun nilai terbesarnya bukan terletak pada kesempurnaan konsep.
Nilai terbesarnya justru terletak pada keberanian untuk berpikir jauh melampaui satu periode kepengurusan. Para muassis NU pada 1926 tidak sedang membangun organisasi untuk lima tahun. Mereka sedang membangun fondasi yang ternyata mampu bertahan lebih dari satu abad.
Kini tantangannya berbeda. Generasi abad kedua tidak cukup hanya menjaga warisan tersebut. Mereka harus menciptakan warisan baru. Karena itu, Muktamar ke-35 semestinya tidak hanya dikenang sebagai forum memilih Ketua Umum PBNU.
Ia memiliki peluang menjadi momentum ketika Nahdlatul Ulama mulai menyusun arah besar perjalanan satu abad berikutnya. Apabila para pendiri NU mewariskan organisasi, maka generasi hari ini memiliki kesempatan mewariskan sebuah visi. Visi itu bernama Islamic Pole.
Sebuah ikhtiar agar ketika Nahdlatul Ulama memasuki abad ketiganya pada tahun 2126, dunia mengenal Indonesia bukan hanya sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, tetapi juga sebagai salah satu pusat lahirnya ilmu pengetahuan, inovasi, kepemimpinan moral, diplomasi perdamaian, dan peradaban Islam yang memberi manfaat bagi seluruh umat manusia.
Barangkali, dari Tambakberas sejarah tidak hanya mencatat lahirnya seorang Ketua Umum PBNU. Sejarah juga dapat mencatat lahirnya sebuah visi besar yang mengubah arah peradaban Islam dunia. (***).

















