Oleh: Gus Dr. A. M. Najich S., M.H., M.Pd. (Pengurus LDNU Kab. Pasuruan)
KABARPAS.COM – WACANA penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pesantren Tambakberas, Jombang, tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai penentuan lokasi penyelenggaraan forum organisasi lima tahunan. Lebih dari itu, ia merupakan momentum historis yang mengandung makna simbolik sekaligus ideologis bagi masa depan Nahdlatul Ulama. Tambakberas bukan hanya sebuah pesantren besar di Jombang, melainkan ruang lahirnya tradisi kepemimpinan, pembaruan pemikiran, dan militansi kebangsaan yang diwariskan oleh salah seorang pendiri NU, K.H. Abdul Wahab Chasbullah. Karena itu, jika Muktamar benar-benar digelar di Tambakberas, pertanyaan yang patut diajukan bukan lagi siapa yang akan terpilih menjadi pemimpin, melainkan apakah NU siap menghidupkan kembali ruh perjuangan Mbah Wahab Chasbullah.
Dalam sejarah NU, Mbah Wahab menempati posisi yang sangat istimewa. Jika Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai peletak fondasi spiritual dan otoritas keilmuan, maka Mbah Wahab adalah arsitek gerakan yang menerjemahkan gagasan besar menjadi kerja-kerja organisasi yang nyata. Ia bukan hanya seorang ulama pesantren, tetapi juga organisator, diplomat, ekonom, sekaligus penggerak sosial. Julukan yang diberikan K.H. Saifuddin Zuhri bahwa Mbah Wahab adalah “bidan NU” bukanlah ungkapan berlebihan, sebab hampir seluruh instrumen yang melahirkan NU berawal dari inisiatif dan kreativitasnya.
Jauh sebelum NU berdiri pada 1926, Mbah Wahab telah membangun fondasi intelektual melalui Taswirul Afkar sebagai ruang diskusi para ulama dan intelektual, mendirikan Nahdlatul Wathan sebagai lembaga pendidikan yang menumbuhkan nasionalisme, serta membentuk Nahdlatut Tujjar sebagai gerakan ekonomi untuk memperkuat kemandirian umat. Tiga pilar tersebut menunjukkan bahwa perjuangan beliau tidak pernah berhenti pada persoalan fikih dan dakwah semata. Pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan dipandang sebagai satu kesatuan dalam membangun peradaban Islam.
Cara berpikir seperti inilah yang tampaknya semakin relevan pada era sekarang. Di tengah perubahan global yang begitu cepat, NU menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding satu abad lalu. Digitalisasi, kecerdasan buatan, polarisasi politik, krisis lingkungan, hingga perubahan otoritas keagamaan akibat media sosial telah mengubah wajah masyarakat. Persoalannya bukan lagi sekadar mempertahankan tradisi, melainkan bagaimana tradisi mampu berdialog dengan perubahan tanpa kehilangan identitasnya.
Di sinilah pelaksanaan Muktamar di Tambakberas memperoleh makna yang lebih dalam. Tambakberas adalah simbol bahwa pesantren tidak pernah menjadi institusi yang pasif. Dari lingkungan pesantren inilah lahir gagasan-gagasan besar yang mampu menjawab persoalan bangsa. Mbah Wahab memberikan teladan bahwa ulama harus hadir sebagai penggerak perubahan, bukan sekadar penjaga status quo. Ia mampu berdialog dengan tokoh-tokoh lintas organisasi seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Dr. Soetomo, hingga K.H. Ahmad Dahlan tanpa kehilangan identitas ke-NU-annya. Sikap terbuka seperti ini menjadi modal penting bagi NU untuk tetap menjadi kekuatan masyarakat sipil yang inklusif.
Warisan terbesar Mbah Wahab sesungguhnya tampak pada lahirnya Komite Hijaz tahun 1926. Melalui diplomasi yang cermat, beliau berhasil memperjuangkan kebebasan bermazhab di Tanah Suci sekaligus menjaga warisan keilmuan Islam. Dari forum inilah kemudian lahir Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa NU sejak awal bukan organisasi yang lahir karena kepentingan politik praktis, melainkan karena tanggung jawab menjaga kemaslahatan umat dalam skala global.
Spirit tersebut layak menjadi bahan refleksi menjelang Muktamar 2026. Jangan sampai Muktamar hanya dipersepsikan sebagai arena kompetisi elite organisasi. Sebab, ukuran keberhasilan Muktamar bukan terletak pada pergantian kepemimpinan, melainkan pada lahirnya arah baru yang mampu menjawab tantangan zaman. Muktamar semestinya menjadi ruang ijtihad organisasi untuk merumuskan agenda besar NU pada abad kedua: memperkuat pendidikan pesantren, membangun kemandirian ekonomi warga, mengembangkan dakwah digital, memperluas diplomasi internasional, serta menjaga persatuan bangsa.
Mbah Wahab sendiri memberikan teladan tentang pentingnya kemandirian. Beliau mengelola pesantren, berdagang, aktif berorganisasi, sekaligus membimbing masyarakat. Baginya, ulama ideal adalah mereka yang memiliki keluasan ilmu, kemandirian ekonomi, dan kekuatan moral. Prinsip ini terasa semakin aktual ketika NU kini memiliki jutaan warga, ribuan pesantren, ratusan perguruan tinggi, serta jaringan sosial yang sangat luas. Potensi besar tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila dikelola dengan semangat pemberdayaan, bukan sekadar administrasi organisasi.
Tambakberas juga mengingatkan bahwa kepemimpinan pesantren selalu bertumpu pada pelayanan, bukan pencitraan. Seorang kiai dihormati bukan karena jabatannya, melainkan karena keteladanan hidupnya. Nilai inilah yang seharusnya menginspirasi kepemimpinan NU ke depan. Organisasi sebesar NU membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan tradisi dengan inovasi, menghubungkan pesantren dengan dunia akademik, memperkuat ekonomi umat, sekaligus menjaga independensi organisasi dari kepentingan politik jangka pendek.
Karena itu, jika Muktamar NU 2026 benar-benar mengambil spirit Mbah Wahab di Tambakberas. maka kegiatan tersebut harus dimaknai sebagai momentum menghidupkan kembali DNA perjuangan Mbah Wahab Chasbullah. Bukan sekadar kembali ke tempat bersejarah, tetapi kembali kepada karakter organisasi yang lahir dari keberanian berpikir, kemandirian bertindak, dan keberpihakan kepada kemaslahatan umat.
Pada akhirnya, Muktamar di Tambakberas bukan hanya soal lokasi. Ia adalah cermin yang akan memperlihatkan apakah NU masih setia pada ruh perjuangannya sendiri. Bila semangat Mbah Wahab mampu dihadirkan kembali, Muktamar 2026 akan dikenang sebagai titik tolak lahirnya agenda besar NU memasuki abad kedua. Namun, apabila Muktamar hanya berhenti pada pergantian kepemimpinan dan kompromi politik organisasi, maka Tambakberas hanya akan menjadi latar sejarah tanpa mampu menghidupkan kembali api perjuangan yang dahulu dinyalakan oleh salah seorang pendiri terbesar Nahdlatul Ulama. (***).

















