Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 21 Apr 2026

Hari Kartini 2026 Fraksi PDIP ingatkan ada kesenjangan pendidikan perempuan di Jatim


Hari Kartini 2026 Fraksi PDIP ingatkan ada kesenjangan pendidikan perempuan di Jatim Perbesar

Surabaya, Kabarpas.com – Peringatan Hari Kartini tahun 2026, menjadi refleksi atas kemajuan sekaligus ketimpangan yang masih dialami perempuan, khususnya di bidang pendidikan di Jawa Timur. Meski akses sekolah bagi perempuan terus meningkat, capaian pendidikan dari sisi lama sekolah masih menunjukkan kesenjangan yang belum sepenuhnya teratasi.

 

Data terbaru pendidikan 2025–2026 menunjukkan partisipasi perempuan dalam pendidikan dasar hingga menengah terus menguat seiring perluasan akses layanan pendidikan dan program wajib belajar. Namun, rata-rata lama sekolah perempuan di Jawa Timur masih berada di kisaran 8,2 tahun, lebih rendah dibanding laki-laki yang mencapai sekitar 8,8 tahun.

 

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pramana, menilai semangat Kartini harus dimaknai sebagai dorongan untuk memastikan perempuan tidak hanya mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga mampu menyelesaikannya dan berdaya di berbagai sektor kehidupan.

 

“Selamat Hari Kartini. Semangat Kartini hari ini adalah memastikan perempuan tidak berhenti pada akses, tetapi juga mampu menyelesaikan pendidikan dan hadir di semua bidang, baik di keluarga, dunia kerja, maupun ruang publik,” ungkap perempuan yang akrab disapa Bunda Renny, Selasa (21/04/2026).

 

Menurut Bunda Renny, perempuan masa kini harus dilihat sebagai kekuatan strategis pembangunan, bukan sekadar kelompok penerima manfaat kebijakan.

 

“Perempuan hari ini bukan hanya penerima kebijakan, tetapi juga penentu arah perubahan. Karena itu ruang untuk tumbuh harus dibuka seluas-luasnya,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, data BPS Jawa Timur kata Bendahara PDI Perjuangan (PDIP) Jatim, Juga menunjukkan bahwa meskipun tingkat partisipasi sekolah perempuan terus meningkat, tantangan terbesar justru ada pada keberlanjutan pendidikan dan transisi ke jenjang lebih tinggi. Di sejumlah wilayah, perempuan masih lebih rentan putus sekolah akibat tekanan ekonomi dan pernikahan dini.

 

“Selain itu, ketimpangan pendidikan ini berdampak langsung pada kualitas partisipasi perempuan di dunia kerja. Kelompok perempuan dengan pendidikan lebih rendah cenderung lebih banyak terserap di sektor informal, dengan akses perlindungan kerja yang terbatas,” pungkas Legilslator asal Kediri ini. (Bro/Ian).

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Baca Lainnya

Pedagang Pasar Tanjung Jember Terbelah, Gus Fawait Satukan Mereka di Pendopo

22 September 2026 - 16:34

Caping Gunung Road to Prigen Coffee Fest 2026: Momentum Penguat Ekosistem Kopi Pasuruan Menuju Ajang Utama

22 September 2026 - 08:58

Rekor Pendaftar Terbanyak: 3.420 Abstrak Bersaing Ketat di AICIS+ 2026, 384 Naskah Lolos Seleksi

22 September 2026 - 08:49

Guru MI di Jember Diduga Nikahi Wali Murid Secara Siri, Prosesi Pernikahan Dipersoalkan

22 September 2026 - 08:45

Pesan Perempuan via Aplikasi, Mahasiswa Jember Malah Bertemu Pria di Hotel

21 September 2026 - 15:41

Datangi Polres Jember, Kuasa Hukum Yusuf Tagih Tindak Lanjut Rekomendasi Polda Jatim soal Laporan Dugaan Pemalsuan 

21 September 2026 - 15:37

Trending di KABAR NUSANTARA