Jember, Kabarpas.com – Polemik antara pedagang Pasar Tanjung Jember yang berjualan di area atas dan bawah dibawa ke satu meja. Bupati Jember Muhammad Fawait mengumpulkan kedua kelompok pedagang dalam forum dialog di Pendopo Wahyawibawagraha, Selasa (22/9/2026).
Forum bertajuk Dialog Interaktif Bupati Jember Gus Fawait Bersama Pedagang Pasar Tanjung: “Aspirasi Pedagang untuk Ekonomi Jember yang Lebih Kuat” itu menjadi ruang bagi pedagang menyampaikan langsung persoalan yang mereka hadapi.
Fawait mempersilakan pedagang menyampaikan keluhan dan usulan secara terbuka.
Seorang pedagang perempuan dari area pasar atas mengeluhkan sepinya pembeli. Ia mengatakan, sebagian pelanggan yang selama ini berbelanja di pasar atas justru tertahan di area bawah.
“Yang di atas mati, Pak. Tidak ada yang mau naik. Kita sama-sama menunggu pembeli. Ke mana langganan saya? Ternyata dicegat di pasar bawah,” ujarnya dalam forum tersebut.
Ia meminta pemerintah daerah memberikan perlakuan yang adil kepada pedagang di kedua area.
“Ini harus adil. Pasar yang di atas cuma melongo,” katanya.
Pedagang dari area bawah kemudian menyampaikan pandangan berbeda. Menurut dia, pedagang pasar pagi maupun sore sama-sama berusaha mencari penghasilan.
“Pasar sore dan pagi ini sama-sama mencari rezeki. Setidaknya yang atas jalan, yang bawah jalan, jadi tidak menang-menangan,” ujarnya.
Sementara itu, pedagang perempuan dari pasar atas meminta pemerintah memperjelas aturan mengenai waktu dan tempat berjualan pedagang bawah.
“Rezeki tidak ada yang mau ganggu. Kalau yang bawah dikasih tempat dan waktu harus tertib. Kadang jamnya melebihi waktu. Mudah-mudahan bupati bisa tegas untuk Pasar Tanjung,” katanya.
Fawait mengatakan persoalan Pasar Tanjung tidak bisa semata-mata diselesaikan dengan pendekatan penertiban. Menurutnya, keberadaan pedagang berkaitan langsung dengan sumber penghidupan mereka.
“Saya orang desa. Saya paham bagaimana perjuangan wong cilik. Makanya kenapa saya datang ke pasar dan saya undang ke pendopo,” ungkap Fawait.
Ia menegaskan tidak ingin membenturkan pedagang pasar atas dan bawah.
“Pasar atas dan bawah sama-sama rakyat saya. Yang di atas wong cilik, yang bawah wong cilik,” ujarnya.
Fawait mengatakan hal yang sama menjadi pertimbangan pemerintah ketika menghadapi polemik pedagang di kawasan Alun-Alun Jember.
“Saya paling khawatir berkonflik dengan wong cilik. Sama seperti polemik pedagang alun-alun. Kalau cuma gusur gampang, tapi ini kan urusan perut,” katanya.
Karena itu, Fawait menyebut pemerintah memilih mencari solusi yang memungkinkan pedagang tetap beraktivitas dengan penataan yang lebih tertib.
Ia juga menyebut area pasar atas memiliki sejarah lebih panjang sehingga keberadaannya perlu diperhatikan dalam penataan.
“Pasar atas ini kan yang lebih dulu dan lebih tua,” katanya.
Fawait mengungkapkan, pemerintah sebelumnya sempat mempertimbangkan untuk memasukkan seluruh pedagang ke dalam kawasan pasar. Namun, kapasitas yang tersedia tidak mencukupi untuk menampung seluruh pedagang.
Karena itu, ia meminta organisasi perangkat daerah menyiapkan sejumlah opsi penataan untuk kemudian dibahas bersama para pedagang.
“Setelah disepakati, semua pedagang harus saling menjaga,” tandas Fawait.
Satgas Infrastruktur Pemkab Jember kemudian memaparkan kondisi terkini dan opsi penataan Pasar Tanjung.
Gatot Triyono mengatakan, terdapat 1.527 kios dan los di area pasar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.345 masih aktif, sementara 178 tidak aktif dan empat lainnya kosong.
Di luar kios dan los, terdapat 587 pedagang yang beraktivitas di pelataran atau area bawah. Seluruh pedagang tersebut disebut masih aktif.
Dengan demikian, total pedagang yang perlu diakomodasi mencapai sekitar 2.114 pedagang.
“Kalau misalnya dimasukkan semua, tidak cukup,” ujar Gatot.
Karena keterbatasan kapasitas tersebut, Pemkab Jember menyiapkan skema penataan yang tidak hanya mengatur lokasi berdagang, tetapi juga lalu lintas, parkir, drainase, hingga waktu aktivitas pedagang.
Satgas Infrastruktur menyebut Dinas Perhubungan akan melakukan rekayasa lalu lintas di Jalan Samanhudi. Arus jalan yang sebelumnya dari selatan ke utara akan dibalik menjadi utara ke selatan.
Selain itu, parkir akan ditata secara paralel dan aktivitas pasar tumpah akan dikendalikan.
Sementara Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan melakukan pembenahan saluran drainase di kawasan pasar.
Selain penataan fisik, Pemkab Jember menyiapkan pembagian waktu berjualan untuk mengatur aktivitas pedagang di kawasan Pasar Tanjung.
Untuk pasar pagi di Jalan Samanhudi yang melibatkan 148 pedagang, aktivitas dibagi menjadi dua sif. Sif pertama untuk pedagang pikap dan bajongan berlangsung pukul 22.00-01.00 WIB.
Selanjutnya, sif kedua untuk pedagang lesehan dan pelataran berlangsung pukul 01.00-05.00 WIB.
Skema serupa diterapkan di Jalan Untung Suropati. Sif pertama untuk pedagang pikap dan bajongan berlangsung pukul 22.00-01.00 WIB, sedangkan sif kedua untuk pedagang lesehan dan pelataran berlangsung pukul 01.00-05.00 WIB.
Untuk pasar sore di Jalan Wahidin yang dihuni 206 pedagang, aktivitas dibagi dalam dua sif. Sif pertama berlangsung pukul 16.00-23.00 WIB dan sif kedua pukul 23.00-06.00 WIB.
Sementara di Jalan Pitaloka terdapat 12 pedagang lesehan dan pelataran yang dijadwalkan berjualan mulai pukul 23.00 hingga 05.00 WIB.
Skema tersebut menjadi bagian dari opsi Pemkab Jember untuk menjaga aktivitas ekonomi pedagang sekaligus mengurangi potensi benturan kepentingan antara pedagang di area atas dan bawah Pasar Tanjung. (dan/ian).

















