Jember, Kabarpas.com – Kabupaten Jember menghadapi dua wajah cuaca ekstrem dalam satu tahun terakhir. Saat musim penghujan, banjir, longsor, dan angin kencang mendominasi laporan bencana. Memasuki musim kemarau, ancaman bergeser menjadi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo mengatakan sepanjang semester pertama tercatat 345 kejadian bencana.
Jumlah itu terdiri atas 274 bencana alam dan 71 bencana non-alam.
“Bencana alam itu yang paling banyak karena saat itu adalah musim penghujan, maka bencana hidrometeorologi. Mulai dari banjir, kemudian tanah longsor, angin kencang yang menyebabkan banyaknya rumah maupun pohon-pohon roboh,” ungkap Edy dalam acara Ruang Diskusi Media bertema “Gempa Bumi dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)”.
Pada periode musim hujan, banjir bandang menjadi salah satu kejadian yang mendapat perhatian BPBD. Banjir terjadi pada sejumlah tanggal dengan dampak yang membentang dari wilayah hulu Sungai Badean hingga kawasan Pakis dan Ambulu.
Edy mengatakan bencana tersebut menimbulkan dua korban jiwa, masing-masing berada di wilayah Pakis dan Curahmalang.
Sementara 71 kejadian non-alam yang tercatat BPBD antara lain berkaitan dengan kecelakaan laut, kecelakaan sungai, dan kebakaran.
Memasuki Juli, BPBD mencatat 16 kejadian bencana, terdiri dari tujuh bencana alam dan sembilan bencana non-alam.
“Berkaitan dengan banyaknya kejadian bencana, oleh karena itu kesiapsiagaan kita tentu kita tingkatkan,” ujar Edy.
Tantangan BPBD kemudian berubah ketika Jember memasuki musim kemarau.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau sebelumnya diperkirakan berlangsung mulai April dengan puncak pada Agustus. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan musim kering berpotensi berlangsung hingga September atau bahkan Oktober.
Kondisi tersebut membuat BPBD meningkatkan status kewaspadaan terhadap kekeringan.
Hingga 31 Agustus 2026, BPBD telah menangani kekeringan di delapan kecamatan, yakni Pakusari, Kalisat, Sumbersari, Silo, Bangsalsari, Jelbuk, Rambipuji, dan Patrang.
Lebih dari 1.000 kepala keluarga terdampak kekurangan air bersih.
BPBD telah mendistribusikan sekitar 507.500 liter air bersih melalui 103 kali pengiriman. Setiap pengiriman menggunakan kendaraan tangki dengan kapasitas sekitar 5.000 liter.
Distribusi dilakukan dengan dukungan dua armada BPBD, serta masing-masing satu armada dari PDAM, Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman, dan PMI.
Pengiriman air dilakukan berdasarkan hasil asesmen di lapangan.
“Bisa jadi ada yang dua hari sekali terkirim, ada yang tiga hari sekali, ada yang empat hari sekali, tergantung dari jumlah KK terdampaknya,” papar Edy.
Menariknya, peta kerawanan kekeringan sebelumnya tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi di lapangan.
Berdasarkan pemetaan awal, terdapat lima kecamatan dalam zona merah, tiga kecamatan zona kuning, dan 23 kecamatan zona hijau.
Dari lima kecamatan zona merah, empat di antaranya telah mengalami kekeringan, yakni Kalisat, Rambipuji, Patrang, dan Sumbersari. Tempurejo, yang juga masuk zona merah, hingga kini belum dilaporkan mengalami kekeringan.
Untuk zona kuning, dari tiga kecamatan yang dipetakan, yakni Silo, Mayang, dan Pakusari, kekeringan telah terjadi di Pakusari dan Silo. Mayang masih belum terdampak.
Namun kekeringan justru muncul di dua wilayah yang sebelumnya masuk kategori zona hijau, yakni Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari dan Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk.
Di Banjarsari, BPBD telah melakukan lima kali pengiriman air bersih.
Sementara di Panduman, distribusi air telah dilakukan enam kali. Namun Edy mengatakan persoalan di Panduman bukan semata akibat faktor alam.
Pasokan air dari sistem Pamsimas mengalami kendala teknis, mulai dari kebocoran jaringan perpipaan hingga kerusakan mesin pompa.
BPBD kemudian berkoordinasi dengan Dinas PUPR, pemerintah desa, dan pengurus Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) untuk memperbaiki sistem tersebut.
Setelah jaringan dan mesin pompa diperbaiki, distribusi air bersih BPBD ke Panduman dihentikan. Empat tandon yang sebelumnya ditempatkan di wilayah itu kemudian ditarik untuk digunakan di daerah lain.
Untuk menghadapi kemungkinan kemarau panjang hingga Oktober, BPBD telah menempatkan 30 tandon air di sejumlah lokasi terdampak.
Meski kebutuhan distribusi air terus meningkat, Edy memastikan ketersediaan sumber air masih mencukupi. BPBD mengambil air dari enam sumber di wilayah Jember yang dinilai memiliki debit melimpah.
“Kami sudah mengambil sebanyak 507.500 liter air. Jadi sudah cukup banyak juga. Kami tidak kekurangan masalah air, insya Allah. Sampai dengan dua bulan ke depan pun kami masih optimis bahwa itu masih bisa memasok untuk wilayah-wilayah yang kekeringan,” katanya.
Selain kekeringan, BPBD juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan yang meningkat selama musim kemarau.
Hingga akhir Agustus, BPBD mencatat telah menangani kebakaran di tiga kawasan hutan dan 10 kawasan lahan.
Kebakaran lahan antara lain terjadi di TPA Pakusari, lahan tebu di sejumlah wilayah, kawasan bambu, hingga lahan di sekitar permukiman.
Salah satu kebakaran terjadi di sekitar Kenari Cluster Perumahan Mojopahit. Api yang muncul di lahan sekitar perumahan berhasil dipadamkan sebelum merambat ke kawasan hunian.
Untuk kebakaran kawasan hutan, BPBD mencatat kejadian di Gunung Watangan, Desa Lojejer, dengan luas area terdampak sekitar 6,5 hektare.
Kebakaran lainnya terjadi di kawasan hutan Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, serta Gunung Triangulasi di Desa Tembokrejo dengan luas sekitar dua hektare.
Penanganan dilakukan bersama Perhutani, Muspika, relawan kebencanaan, dan unsur terkait lainnya.
BPBD juga meminta pemerintah kecamatan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya pemilik lahan, agar tidak melakukan pembakaran selama musim kemarau.
Edy mengatakan ada dugaan sejumlah kebakaran lahan berawal dari aktivitas pembakaran setelah panen yang kemudian tidak terkendali.
“Dalam situasi kemarau panjang begini tidak sampai kemudian dibakar,” ujarnya.
Dengan kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, BPBD Jember menempatkan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan sebagai ancaman yang harus diantisipasi secara bersamaan. (dan/ian).

















