Jember, Kabarpas.com – Festival “Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2026” tak hanya menjadi ajang promosi industri cerutu, tetapi juga membuka ruang dialog antara pelaku usaha, pemerintah, dan petani tembakau. Bagi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Jember, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kualitas tembakau Jember kepada pasar internasional.
Ketua HKTI Kabupaten Jember, Ponimin Tohari, mengapresiasi penyelenggaraan JKCI 2026 yang dinilainya mampu mempertemukan pelaku industri dengan para petani dalam satu ekosistem bisnis.
“Jember memang memiliki produk unggulan berupa tembakau untuk kebutuhan ekspor. Dengan adanya kegiatan seperti ini tentu sangat luar biasa karena bisa semakin memperkenalkan tembakau Jember,” kata Ponimin saat ditemui di sela-sela penyelenggaraan JKCI 2026 di Pantai Watu Ulo, Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, promosi yang dilakukan melalui festival tidak hanya berdampak pada industri cerutu, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi hasil produksi petani tembakau.
Di sisi lain, Ponimin menyoroti persoalan yang selama ini dihadapi petani, yakni tingginya biaya pupuk non-subsidi. Berbeda dengan komoditas pangan, tanaman tembakau tidak memperoleh alokasi pupuk bersubsidi sehingga petani harus membeli pupuk dengan harga komersial.
“Selama ini kendala petani tembakau memang pada pupuk non-subsidi. Karena tembakau merupakan tanaman perkebunan, sehingga tidak mendapatkan subsidi pupuk dari pemerintah,” ujarnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, HKTI Jember mulai mendorong penggunaan pupuk organik sebagai alternatif pengganti sebagian pupuk kimia, khususnya pupuk ZA yang selama ini banyak digunakan petani.
Ponimin mengaku telah melakukan uji coba penggunaan pupuk organik selama dua tahun terakhir. Hasilnya, menurut dia, kualitas tanaman tetap mampu memenuhi standar industri, termasuk untuk tembakau yang dipasarkan ke segmen ekspor.
“Saya sudah menguji selama dua tahun. Sekarang sudah dipakai oleh petani tembakau dan kualitasnya bisa memenuhi kebutuhan ekspor. Harganya juga lebih murah dibanding pupuk yang ada di pasaran,” ungkapnya.
Sebagai Ketua HKTI Jember, ia berencana terus mengajak kelompok-kelompok tani memanfaatkan pupuk organik sebagai salah satu solusi menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas hasil panen.
Menurut Ponimin, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga daya saing tembakau Jember di tengah meningkatnya kebutuhan industri cerutu yang kini semakin dikenal hingga pasar internasional.
Melalui kolaborasi antara petani, pelaku industri, dan pemerintah daerah yang diperkuat melalui JKCI, Ponimin optimistis komoditas tembakau Jember akan semakin memiliki nilai tambah sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi para petani. (dan/ian).

















