Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Terkini · 15 Jun 2026

Tahun Baru Hijriah Yes, Tahun Baru Masehi No!


Tahun Baru Hijriah Yes, Tahun Baru Masehi No! Perbesar

Oleh: Gus Dr. A. M. Najich S, M.H, M.Pd, (Majelis Pengasuh Ponpes Terpadu Al-Yasini dan Dosen IAI Al-Yasini).

 

KABARPAS.COM – SETIAP pergantian tahun selalu menjadi momentum refleksi bagi manusia. Pergantian waktu mengingatkan bahwa usia semakin berkurang, kesempatan beramal semakin sedikit, dan kematian semakin mendekat. Namun ironisnya, di tengah masyarakat Muslim, momentum pergantian tahun yang justru dirayakan secara besar-besaran adalah Tahun Baru Masehi, sementara Tahun Baru Hijriah yang memiliki akar sejarah dan nilai spiritual yang sangat kuat sering kali berlalu tanpa makna yang mendalam.

Padahal, bagi umat Islam, kalender Hijriah bukan sekadar sistem penanggalan. Kalender ini lahir dari peristiwa monumental hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah peristiwa yang menjadi titik awal kebangkitan peradaban Islam. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA, hijrah dipilih sebagai awal penanggalan Islam karena dianggap sebagai momentum transformasi umat dari fase penindasan menuju fase pembangunan masyarakat yang berdaulat dan berkeadaban.¹

Tahun Baru Hijriah mengandung pesan perubahan, perjuangan, pengorbanan, dan pembaruan diri. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi spiritual dan sosial. Karena itu, memperingati Tahun Baru Hijriah seharusnya menjadi momentum muhasabah, evaluasi diri, memperbaiki kualitas ibadah, memperkuat akhlak, dan meningkatkan kontribusi sosial kepada masyarakat.²

Allah SWT memerintahkan manusia untuk senantiasa berlomba dalam kebaikan. Firman-Nya:

*“Fastabiqul khairat” (berlomba-lombalah dalam kebajikan).*³

Ayat tersebut memberikan petunjuk bahwa setiap momentum kehidupan, termasuk pergantian tahun, harus diisi dengan aktivitas yang bernilai ibadah dan kemanfaatan. Oleh karena itu, menyambut Tahun Baru Hijriah dengan pengajian, dzikir, istighatsah, kajian sejarah hijrah, santunan sosial, dan muhasabah merupakan bentuk implementasi nilai-nilai Islam yang sangat relevan dengan semangat hijrah itu sendiri.

Berbeda dengan Tahun Baru Hijriah, Tahun Baru Masehi berasal dari tradisi penanggalan Romawi yang kemudian berkembang dalam peradaban Kristen Barat melalui Kalender Julian dan Kalender Gregorian. Istilah Masehi sendiri merujuk pada perhitungan tahun yang dihitung dari kelahiran Nabi Isa AS menurut keyakinan Kristen, yang dalam bahasa Latin disebut Anno Domini (Tahun Tuhan).⁴

Karena latar sejarah dan akar budayanya tersebut, sebagian ulama memandang bahwa perayaan Tahun Baru Masehi tidak dapat dilepaskan dari tradisi non-Islam. Dalam perspektif fikih, persoalan ini sering dikaitkan dengan konsep tasyabbuh, yaitu menyerupai tradisi khas kelompok lain yang memiliki dimensi keagamaan. Rasulullah SAW bersabda:

*“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”*⁵

Hadis ini menjadi dasar kehati-hatian para ulama dalam menyikapi berbagai tradisi yang berasal dari luar Islam, terutama jika tradisi tersebut memiliki akar historis dan simbolik yang berkaitan dengan ritual agama tertentu.

Selain persoalan identitas keagamaan, realitas perayaan Tahun Baru Masehi dewasa ini juga menimbulkan berbagai persoalan moral dan sosial. Pergantian tahun sering diwarnai pesta berlebihan, hiburan yang melalaikan, pemborosan, pergaulan bebas, konsumsi minuman keras, hingga berbagai bentuk kemaksiatan lainnya. Fenomena ini jelas bertentangan dengan prinsip Islam yang mengajarkan kesederhanaan, tanggung jawab moral, dan pemanfaatan waktu secara produktif.⁶

Lebih jauh lagi, budaya euforia Tahun Baru Masehi sering kali menggeser kesadaran umat terhadap identitas peradabannya sendiri. Umat Islam begitu antusias menyambut 1 Januari, namun banyak yang bahkan tidak mengetahui kapan 1 Muharram tiba. Akibatnya, simbol-simbol peradaban Islam semakin terpinggirkan di tengah dominasi budaya global yang terus menguat.

Meski demikian, bukan berarti pergantian tahun Masehi harus direspons dengan sikap anti-sosial atau permusuhan terhadap pihak lain. Yang perlu dilakukan adalah mengarahkan momentum tersebut kepada aktivitas yang bernilai ibadah. Banyak ulama menganjurkan agar malam pergantian tahun diisi dengan dzikir, membaca Al-Qur’an, kajian keislaman, shalat malam, doa, serta muhasabah atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.⁷

Pandangan ini sejalan dengan tujuan penciptaan manusia sebagaimana ditegaskan Allah SWT:

*“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”*⁸

Karena itu, ukuran keberhasilan pergantian tahun bukanlah seberapa meriah pesta yang diselenggarakan, melainkan sejauh mana seseorang mengalami peningkatan kualitas iman, ilmu, dan amal saleh. Tahun baru seharusnya menjadi momentum memperbaiki hubungan dengan Allah, memperkuat hubungan dengan sesama manusia, serta memperbanyak amal yang bermanfaat bagi umat.

Dalam kaidah fikih dikenal prinsip:

“Dar’ul mafasid muqaddamun ’ala jalbil mashalih” (mencegah kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan).⁹

Kaidah ini mengajarkan bahwa ketika suatu tradisi lebih banyak menghadirkan kemudaratan daripada manfaat, maka menjauhinya merupakan pilihan yang lebih bijaksana. Oleh sebab itu, daripada larut dalam budaya pesta Tahun Baru Masehi yang sering kali tidak produktif, umat Islam semestinya menghidupkan kembali semangat Tahun Baru Hijriah sebagai momentum kebangkitan spiritual dan peradaban.

Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia adalah panggilan untuk berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kemalasan menuju produktivitas, dari maksiat menuju taat, serta dari keterbelakangan menuju kemajuan. Jika umat Islam mampu menghidupkan makna hijrah ini, maka Tahun Baru Hijriah akan menjadi energi besar bagi lahirnya generasi Muslim yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.

Maka slogan “Tahun Baru Hijriah Yes, Tahun Baru Masehi No!” bukanlah ajakan untuk membenci budaya lain, melainkan seruan agar umat Islam kembali meneguhkan identitasnya, memuliakan syiar agamanya, dan menjadikan pergantian tahun sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sekadar mengikuti arus budaya yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai Islam. (***).

 

*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi Kabarpas.com.

_______________

*1. Umar bin Khattab, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, jil. 2, hlm. 389.

2. Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut: Dar al-Fikr, jil. 3, hlm. 220.

3. Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah [2]: 148.

4. Julius Caesar, The Julian Calendar Reform, Cambridge University Press, 1999, hlm. 45.

5. HR. Abu Dawud, No. 4031.

6. Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, Riyadh: Dar Alam al-Kutub, jil. 1, hlm. 528.

7. Yusuf al-Qaradawi, Fatawa Mu’ashirah, Kairo: Dar al-Qalam, jil. 2, hlm. 613.

8. Al-Qur’an, QS. Adz-Dzariyat [51]: 56.

9. Al-Asybah wa al-Nazha’ir, Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, hlm. 87.

Artikel ini telah dibaca 33 kali

Baca Lainnya

Ratusan Pelajar Pasuruan dan Sekitarnya Ikuti Seminar Inspiratif AHM Best Student 2026

19 Juni 2026 - 14:23

Dosen UNU Pasuruan Jadi Narsum Utama Bootcamp Riset Mahasiswa Universitas PGRI Sumenep 

19 Juni 2026 - 10:58

​Ratusan Pelajar se-Pasuruan Raya Antusias Ikuti Seminar Inspiratif Bertajuk Gen Z Berkarya, Indonesia Berdaya

18 Juni 2026 - 23:41

Pemalsuan Dokumen dalam Kemigrasian Indonesia

18 Juni 2026 - 23:14

BPPKAD Kabupaten Probolinggo Gelar Pembinaan Penatausahaan Keuangan Bagi Pejabat Pengelola Keuangan Daerah 2026

18 Juni 2026 - 20:43

KA Pandalungan 2 Jember-Gambir Beroperasi, Warga Tapal Kuda Punya Pilihan Baru ke Jakarta

18 Juni 2026 - 15:26

Trending di Kabar Otomotif